Sebuah Pencarian Pasca Kampus: An Upside-Down Road

“Waw, enak ya lulusan luar negeri! Pasti nyari kerjanya gampang deh!”

Pernyataan di atas terkesan sangat benar, bold dan lumrah di dengar di masyarakat kita. Mungkin senada dengan pertanyaan mengintimidasi seperti “Kapan lulus?” atau “Kapan nikah?” yang cukup membuat kita berdenyit. Tetapi biar begitu saya cukup maklum, presepsi lumrah ini mungkin akan lama hilang, kalau tidak saya katakan akan terus melekat pada pola pikir masyarakat Indonesia pada umumnya. Kesadaran kita untuk tidak terlalu baper juga menjadi kunci untuk mengatasi kekikukan ketika dihadapkan pada pertanyaan atau pernyataan seperti di atas.

Begitulah sedikit gambaran mendalam tentang pengalaman saya selama kurang lebih 6 bulan mencari pekerjaan setelah dinyatakan lulus dari salah satu universitas ternama di negeri kincir angin dan kembali ke tanah air pada Oktober 2017 silam. Perjalanan yang boleh dikatakan bak roller coaster; berliku, menanjak dan turun terjal tak menentu yang memacu adrenalin saya untuk tetap sadar dan “menikmati” semua momennya atau menyerah dan pingsan selama berada di atas ‘wahana”. Saya yakin, teramat yakin, bahwa akan ada pemberhentian dari pencarian ini. Tempat dimana saya berlabuh menurunkan jangkar untuk kemudian berkarya lebih jauh lagi. Saya meyakini bahwa pencarian pekerjaan boleh dikatakan mirip dengan mencari jodoh. Ia telah digaristakdirkan untuk kita, upaya kita hanyalah untuk sabar dan terus berusaha. Meski terkesan mudah, namun sabar dan berusaha merupakan hal paling sulit yang saya alami dalam 6 bulan pengembaraan saya mencari pekerjaan. Pantas saja memang banyak yang bertumbangan. Sulit! Sulit sekali mencari kerja akhir-akhir ini, alih-alih justru kadang kita menerima pekerjaan yang bukan sesuai minat kita karena untuk menyambung hidup. Salah? Saya tidak mengatakan begitu, saya sadar betul bahwa hidup itu sulit apalagi jika sudah banyak pertimbangan seperti keluarga, kesempatan atau lainnya. Terkadang “keluar jalur” adalah cara ksatria yang perlu dilakukan. Terkadang pula memaksakan diri untuk bertahan juga sebuah kebodohan yang perlu segera dihentikan. Tidak ada yang baku. Pentingnya memahami konteks adalah hal yang utama. Apapun keputusannya, setiap insan pasti punya pertimbangannya. Maka dari itu, tulisan ini sekali lagi bukan untuk menggurui. Saya hanya ingin kembali berbagi kisah pribadi. Mungkin bisa menjadi pembelajaran bersama bagi pembaca blog sederhana ini. Karena dengan bercerita saya merasa lebih hidup dan kelak tulisan-tulisan saya ini juga akan menjadi pengingat bagi saya ketika mungkin saya kembali dihadang oleh tantangan hidup lainnya.

Baiklah, langsung kita mulai saja cerita yang panjang ini. Lebih baik anda baca ketika waktu senggang dan siapkan popcorn atau minuman segar. Karena cerita ini benar-benar panjang hahaha. Kali ini saya ingin bercerita berdasarkan timeframe dari saya kembali ke tanah air pada Oktober 2017 lalu sampai saya menandatangani kontrak pekerjaan pada bulan Maret 2018 ini. Mungkin bagi yang sudah tahu, pada tulisan saya sebelumnya, saya mengambil program Master Degree di Erasmus University Rotterdam dengan major Maritime Economics and Logistics (MEL) dari tahun 2016 hingga 2017 melalui pembiayaan beasiswa LPDP. Tentu minat saya selanjutnya adalah berkarir di industri kemaritima. Saya juga pernah menyatakan bahwa ultimate goal saya adalah menjadi salah satu aktor strategis dalam penetapan kebijakan maritim di Indonesia. Oleh karena itu setibanya di tanah air, saya mencoba untuk mendaftar menjadi aparatur negara dalam seleksi CPNS di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman. Alasannya simpel, saat itu karena memang hampir seluruh kementerian sedang melakukan bukaan pekerjaan melalui seleksi CPNS tepa setelah saya lulus S2 dimana kesempatan berkarir di kementerian akan lebih mendekatkan saya dengan ultimate goal saya di atas. Terbayang kesempatan untuk mengambil Phd program dengan melanjutkan skema beasiswa lanjutan LPDP dalam 3-4 tahun ke depan. Namun, apa daya setelah melakukan berbagai macam tes selama kurang lebih 2 bulan, bahkan saya sempat menjadi yang terbaik pada 2 tahap seleksi, pada akhirnya saya hanya mampu menduduki rangking 2 pada nilai akumulasi akhir dengan terpaut 0.9 poin dari 100 poin maksimal dari peringkat 1. Loh memang berapa orang yang diambil untuk posisi yang saya lamar? Ya, hanya 1 orang saja yang diambil. Ini adalah pukulan pertama yang merupakan realitas terbalik dari pernyataan yang saya tuliskan pertama kali pada postingan ini. Apakah lulusan luar negeri menjadikan jaminan? Oh tentu tidak, kita semua bersaing secara sehat dan setiap orang baiknya tidak dikotak-kotakan berdasarkan status yang dia sandang.

Namun, entah karena merasa terlalu yakin diterima di kementerian atau cukup bodoh untuk tidak mempunyai back up plan, saya melewati beberapa kesempatan lamaran kerja di perusahaan-perusahaan ternama sejak periode Oktober-November. Bahkan saya melewati kemungkinan untuk mendaftar 2 BUMN besar yaitu Pertamina dan Telkom. Pada saat itu saya pikir hal ini tidak terlalu bermasalah karena core business 2 BUMN ini memang tidak sesuai dengan minat saya di logistic kemaritiman. Di sisi lain saya mendaftar Pertamina Tongkang, semacam subsidiary Pertamina untuk keperluan pengangkutan minyak bumi menggunakan kapal tanker dengan mekanisme pendaftaran yang berbeda dengan Pertamina Persero. Tetapi memang belum jodoh, panggilan yang saya tunggu-tunggu tak pernah datang. Selanjutnya panggilan tes kerja lainnya justru datang di penghujung bulan Desember, 2 perusahaan sekaligus yaitu Meratus Line dan PT. Puninar Logistik.  Meratus adalah perusahaan pelayaran yang cukup ternama di Indonesia dengan jumlah fleet yang besar dan meliputi hampir seluruh daerah di Indonesia sementara Puninar Logistik adalah perusahaan Trucking yang meski bukan spesialisasi di moda transportasi laut tetapi tetap merupakan bagian dari keseluruhan industry logistik. Di Meratus saya hanya mampu melewati 3 fase dari 4 fase seleksi yang ada, ketika 4 orang terbaik dipanggil wawancara untuk kemudian diambil 2 orang saja, saya tidak berada dalam list itu. Sementara di Puninar tidak begitu berbeda, saya hanya sampai satu tahap sebelum finalisasi dengan janji diberi kabar 2 minggu selanjutnya untuk kemudian kabar itu tak pernah datang lagi.

Mencari pekerjaan mulai berat sejak saat itu, karena memang Desember merupakan akhir tahun sehingga sepi lowongan. Adapun lowongan lainnya tidak berkaitan sama sekali dengan logistik kemaritiman yang saya ingingkan tetapi masih bersinggungan dengan jurusan S1 saya yaitu Teknik Industri. Hanya saja ketika itu saya berpikir untuk tetap berpendirian untuk mencari pekerjaan di sektor logistik saja. Logistik darat pun tidak masalah, yang penting memang pengalaman kerjanya dulu. Hingga sampai pada pertengahan Januari 2018 ada lagi panggilan dari salah satu perusahaan tambang ternama di Indonesia yaitu PT. Adaro. Posisi yang saya lamar saat itu adalah Logistic Planner yang bertugas untuk melakukan pegawasan pada penjadwalan proses bongkar muat kapal curah untuk mengangkut batu bara. Pikir saya, wah ini nih! Ini dia, cocok, dan menarik sekali. Saya melewati proses psikotest dan wawancara HRD di hari yang sama. Kesempatan yang tidak dimiliki oleh semua kandidat. Tetapi sekali lagi, setelah 2 minggu janji, kabar itu tidak pernah datang lagi. Baru lebih dari 1 bulan lamanya saya dikabari bahwa saya tidak lolos tahapan selanjutnya. Sedih? Tentu, saya sudah terlalu berharap. Sementara proses lamaran lain tetap saya lakukan, tetapi pikiran-pikiran untuk bisa diterima di posisi Logistic Planner itu terus menghantui saya.

Kesedihan itu terus saya rasakan sampai timbul keraguan akan diri sendiri. Permasalahan mental yang saya takuti akhirnya datang menghantui. Saya kemudian sering mempertanyakan apa yang salah dengan semua seleksi yang saya jalani? Saya sudah merasa memberikan kemampuan maksimal saya di tiap tes. Bahkan lelahnya psikotest yang memakan waktu seharian penuh itu dengan Paulie test tetap saya ikuti dengan baik. Tapi sudahlah, saya pikir memang belum jodoh saja, walau kenyataannya kesedihan itu tetap mengendap.

Sejak saat itu untuk mengisi waktu luang saya sering ngobrol-ngobrol dengan teman-teman saya. Kadang mereka memberikan info kerja dan dua contoh paling nyatanya datang dari kerabat SMP saya yang saat itu juga sedang mencari pekerjaan dan juga rekan kuliah S2 saya di Belanda. Kawan SMP saya itu memberikan info untuk mencoba menaruh CV di salah satu perusahaan Head Hunter bernama Robert Walters. Perusahaan ini akan mencoba menghubungkan employer dengan job seeker sesuai dengan kriteria yang dimiliki. Pada dasarnya yang mereka lakukan bukan untuk entry level namun lebih sering di middle level management ke atas. Sehingga saya yang merupakan freshgraduate ini agaknya susah. Tapi biarpun begitu tetap saya coba. Singkat cerita saya mendapatkan tawaran bekerja di Oriflame untuk middle level position tetapi posisinya memang lebih membutuhkan kemampuan Teknik Industri saya dulu dan bukan bidang logistik sesuai yang saya harapkan. Pada akhirnya saya memutuskan untuk tidak mengambil kesempatan itu.

Sementara rekan kuliah S2 saya yang memang merupakan karyawan Pelindo 1 memberikan saya informasi lain yang cukup menggemberikan. Bahwa Direktur Utama Pelindo 1 tertarik untuk mengajak saya bekerja di Pelindo 1. Bak angin segar di awal bulan Februari saya merasa sangat senang sekali. Ini dia! Saya pikir begitu, cocok sekali bekerja di Pelindo 1. Apalagi yang tertarik adalah Pak Dirut langsung. Selidik punya selidik, kisah di balik ketertarikan Pak Dirut ini hadir ketika senior saya itu sedang makan malam di Singapura bersama Dirut Pelindo 1 dalam rangka kunjungan kerja. Saat makan malam itu, Pak Dirut bertanya tentang kondisi pekerjaan senior saya itu. Dikatakan bahwa saat ini dia sedang dibantu kawan saya lainnya yang sama-sama kuliah di MEL, kemudian Pak Dirut bertanya apakah ada lagi lulusan MEL yang belum bekerja? Ada, jawab senior saya, yaitu saya haha. Memang diantara 12 mahasiswa Indonesia di jurusan saya hanya saya saja pada saat itu yang belum mendapatkan pekerjaan saat itu. Tak pelak saat itu juga saya dihubungi via Whatsapp dan senior saya ini kemudian meminta CV saya langsung untuk diserahkan ke Pak Dirut. Kaget dan senang, tak perlu menunggu lama langsung saya kirimkan CV terbaru saya yang selalu saya gonta-ganti tiap minggunya saking tidak juga membuahkan hasil hahaha. Pucuk di cinta ulam pun tiba, Pak Dirut mengajak bertemu lusanya ketika dia ada kunjungan kerja di Jakarta. Saya diminta menemuinya di Pullman Hotel, Sudirman. Betapa senangnya saat itu, Pelindo adalah salah satu BUMN terbesar di Indonesia. Terlebih lagi, jurusannya nyambung dengan saya sesuai dengan karir yang saya inginkan. Lusanya saya bertemu di tempat yang dijanjikan, pertemuan itu hanya berlangsung 10 menit. Pak Dirut menanyakan minat saya, background pendidikan, kesiapan saya dll. Semua saya jawab saja dengan lancar sambil sesekali saya tidak bisa menahan senyum gembira. Setelah pertemuan itu sorenya saya dihubungi pihak HRD menanyakan dokumen-dokumen kelengkapan saya seperti biasa. Dikatakan prosesnya mungkin akan dikabari dalam beberapa minggu lagi.

Semenjak pertemuan hari itu dengan Pak Dirut, saya selalu antusias menunggu dari minggu ke minggu. Meski saya juga masih melamar pekerjaan di tempat lain, sebagai cadangan supaya apa yang terjadi pada kasus CPNS saya tidak terulang kembali. Tetapi hati ini rasanya sudah ingin sekali bekerja di Pelindo 1, meski lokasinya di Medan saya pikir tak apa. Saya siap! Bosan juga saya dengan Jakarta, saya mau cari suasana baru. Medan? Pasti seru, saya juga belum pernah ke Sumatera. Saya sudah membayangkan berbagai keseruannya saat itu. Meski tantangannya berat karena tantangan ini langsung dari Pak Dirut. Saya menantikan kapan tes selanjutnya, sampai kemudian saya diundang dalam beberapa seleksi wawancara di berbagai macam perusahaan seperti Zalora dan industry retail lainnya. Ya saat Januari saya digantungi Adaro dan kemudian di tolak, saya mulai menyebar banyak lamaran ke berbagai industry. Saya sudah sedikit tertekan dengan kondisi menganggur yang lama itu. Fakta bahwa saya satu-satunya lulusan MEL yang belum bekerja menjadi beban tersendiri. Meski saya mengikuti semua seleksi wawancara di berbagai tempat, saya selalu katakana dengan jujur bahwa saya sedang di proses di Pelindo 1. Saya tau hal ini terdengar bodoh, tapi saya juga tidak ingin berbohong. Apalagi jika kasusnya saya diterima di Zalora misal dan kemudian Pelindo 1 memanggil dan saya diterima juga. Justru ini merugikan dua belah pihak. Saya tidak setega itu keluar dari Zalora hanya setelah beberapa hari kerja. Pikiran yang masih sangat lugu… Sangat lugu…. Namun, kabar yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang dari Pelindo 1. Saya sudah khawatir sekali, setiap harinya saya mengecek email tidak ada kabar. Beberapa kali saya bertanya pada senior saya itu atau langsung email ke HRD namun tidak kunjung ada kepastian. Nampaknya bagian personalia kebingungan, karena saat itu memang Pelindo 1 tidak melakukan proses rekrutmen. Sehingga harus ditempatkan dimanakah saya dan dengan status apa? Kabar yang saya dengar saat itu adalah saya akan ditempatkan di anak perusahaan dengan harapan setelah sekian waktu akan bisa diangkat menjadi karyawan Pelindo 1 hal ini juga isu-isu saja dari harapan Pak Dirut sendiri. Namun tentu teknis berbeda saya paham itu.

Hari berganti minggu, dan nampaknya Zalora menyerah pada saya. Tidak ada kabar lagi dari Zalora. Saya mulai menyesali keputusan saya untuk jujur. Menganggur benar-benar mengganggu kita berpikir jernih. Penantian yang apabila tidak diimbangin dengan kegiatan bermanfaat pasti akan menimbulkan gangguan psikologis. Saat itu saya di rumah memang suka menjaga keponakan, bantu-bantu orang tua mengurus rumah, tapi lama kelamaan bosan sekali. Apalagi tabungan menipis dan tanpa pemasukan saya dilanda pikiran macam-macam. Dulu saya sering mengajar menjadi guru bimbel atau privat untuk bidang matematika dan fisika. Tetapi sekarang link saya sudah tidak ada dan agak kasihan kalau saya tidak sepenuh hati karena ketika mereka sudah merasa cocok dan saya tinggalkan kadang jadi beban moral saja rasanya. Pikiran untuk sampingan menjadi pengendara ojek online juga hinggap di benak saya, intinya bagaiman bisa dapat pemasukan. Namun, di ujung kegelisahan itu dan setelah 4 minggu penuh menunggu kabar dari Pelindo datang juga! Gembiranya saya saat itu, akhirnya saya akan tes juga akhirnya saya akan segera mempunyai karir di bidang yang saya minati. Pikir saya, sekali lagi… Di sisi lain, sehari sebelum tes Pelindo 1 lebih tepatnya, saya diundang untuk wawancara kerja oleh Cargill. Perusahaan agriculture ternama dari USA yang memang giat mencari junior site logistic di iklan-iklan lowongan pekerjaan online. Saya diundang wawancara langsung oleh regional manager logistic nya tanpa tes-tes lain. Seperti Zalora, Cargill menaruh ketertarikan yang cukup besar kepada saya. Saya juga sebenarnya sudah mencoba melamar di BUMN lain yaitu Angkasa Pura 1. Karena saat itu saya memang mencoba “semuanya” sepertinya idealism saya perlahan luntur. Hanya saja Cargill ini responnya cepat karena mereka memang butuh cepat. Setelah melakukan wawancara, saya mengetahui ternyata posisi itu juga sangat menjanjikan dan sesuai dengan minat saya. Karena junior logistic ini akan ditempatkan di salah satu warehouse Cargill untuk kemudian mengurusi semua keperluan logistic perusahaan yang kaitannya erat dengan export-import komoditas agriculture dan aquaculture yang semuanya menggunakan kapal curah Panamax. WAAAW! Logisitik maritim! Di tengah wawancara saya sangat antusias, namun bayangan tes Pelindo menghampiri saya lagi saat itu juga. Hingga bayangan wajah Pak Dirut pun muncul. Enggan kejadian Zalora terulang, tetapi tidak enak juga dengan Pelindo, saya pada akhirnya jujur lagi untuk kesekian kalinya bahwa saya sedang di proses di Pelindo 1. Meski sang manajer tidak menunjukan wajah kekagetannya, tapi saya yakin ini pasti berpengaruh. Sang manajer menjanjikan minggu depan jika cocok saya akan dipanggil, tetapi setan apa yang menghinggapi saya, kembali saya katakan bahwa saya akan coba berpikir ulang karena masih mempertimbangkan Pelindo 1.

Besoknya ketika saya mengikuti tes Pelindo 1, justru bayangan Cargill yang muncul terus-menerus. Sementara Pelindo 1 menyampaikan mereka akan memproses test saya ini paling lama 2 minggu. Sebuah kondisi yang sangat pelik pikir saya. Sebenernya saya yakin dengan psiikotest yang saya jalani di Pelindo 1. Saya sudah terbiasa mengikuti psikotest hahaha. Tetapi saya khawatir justru kalau Cargill kembali memanggil, apa yang saya harus lakukan? Akhirnya saya mengambil sikap, siapapun yang lebih dulu maka itulah yang saya ambil. Saya sudah siap dengan keputusan ini meski tetap galau menunggu pengumuman dari kedua perusahaan. Hingga ketika waktu 1 minggu yang dijanjikan lewat, saya tak kunjung mendapatkan panggilan lanjutan dari Cargill. Ada perasaan kecewa, tapi saya berpikir ini untuk lebih baik. Fokus saya tinggalah Pelindo 1. Pikir saya saat itu lagi… Tetapi sambil menunggu, Angkasa Pura 1 juga kembali memanggil. Tak apalah, saya ikuti saja lagi-lagi dengan niatan sebagai cadangan. Karena saya sudah begitu yakin dengan Pelindo 1 dengan kelinieran bidang kerjanya, berbeda dengan Angkasa Pura 1 yang bergerak dibidang penerbangan. Sampai juga akhirnya di tengat 2 minggu yang dijanjikan. Setelah berusaha menahan sabar untuk tidak terlalu memburu-burui HRD Pelindo 1, akhirnya saya mendapatkan email bahwa saya dinyatakan LULUS! Wah betapa senangnya saya. Senang sekali!!!! Lucunya saya mendapatkan email ini saat saya sedang menjalani Medical Check-Up untuk Angkasa Pura 1 hahaha. Tak menunggu waktu lama saya lempar kabar gembira ini ke grup whatsapp keluarga, saya juga langsung memberitahu kekasih saya saat itu bahwa saya akhirnya diterima kerja! Senang dan lega sekali saya saat itu… Pikir saya saati itu… hehehe

Namun, sekali lagi takdir tidak pernah ada yang tau bukan? Besoknya saya mencoba mengkonfirmasi status saya ini ke bagian HRD Pelindo 1. Di sisi lain saya mencoba mengunci posisi dan ingin mendapatkan penawaran kontrak secepatnya karena bagaimanapun saya juga sedang di proses di Angkasa Pura 1. Betul besoknya bagian HRD Pelindo 1 menguhubungi saya. Tapi hasilnya justru tidak sesuai yang saya bayangkan. Intinya, saya memang akan ditempatkan di anak perusahaan Pelindo 1 yang mengurusi pengembanngan kawasan Kuala Tanjung, suatu kawasan Industri yang diproyeksikan dapat menyaingi Singapore kelak. Karena adanya kerjasama antara Pelindo 1 dan Port of Rotterdam saat ini, saya sangat senang sekali dan saya tidak masalah soal penempatan di anak perusahaan tersebut. Tetapi kabar berikutnya yang sangat mengecewakan, saya tidak diproyeksikan untuk diangkat menjadi status pegawai induk perusahaan. Kemungkinan besar setelah 1 tahun kontrak saya hanya akan menjadi karyawan tetap di anak perusahaan tersebut. Kecewa, kecewa sekali saya mendengarnya. Berbeda dengan apa yang dijelaskan Pak Dirut pikir saya. Tapi apa yang bisa saya lakukan? Mendengar itu, saya berdiskusi panjang lebar dengan senior saya di Pelindo 1, rekan-rekan kuliah S2 saya lainnya, keluarga dan kekasih saya. Realtif mereka menyarankan berbagai macam, tapi saya sendiri beranggapan karir saya akan sulit kalau hanya sebagai karyawan anak perusahaan. Maka dari itu saya putuskan untuk mengirim email formal sebagai bentuk penolakan saya dengan skema yang ditawarkan, saya cc kan ke Pak Dirut. Masih ada harapan bahwa nantinya ada tanggapan dari mereka untuk kemudian merevisi tawaran yang diberikan kepada saya. Hanya saja, harapan itu hanya menjadi harapan semu. Balasan itu tak pernah datang…..

Disinilah titik terendah saya. Merasa dikecewakan tapi saya tak mampu berbuat apa-apa karena siapa kah saya? Saya belum memiliki kuasa apapun, koneksi kemanapun, dll. Saya hanya pasrah. Kembali saya mengingat beberapa kesempatan lain yang saya tolak demi Pelindo 1 ini. Cargill terutama. Namun, biar begitu sebenarnya ada beberapa tawaran lain juga yang saya ikuti dan saya tolak demi Pelindo 1 ini yang belum saya ceritakan. Salah satunya adalah tawaran dari PT. Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL). Saat itu, diantara penantian menunggu jawaban Pelindo 1 dan juga setelah Cargill tak kunjung memanggil. Saya ada invitasi dari General Manager HRD SPIL untuk bertemu dengannya di sebuah hotel di Sudirman. Dikatakan dia tertarik dengan saya, melihat profil pendidikan saya di Maritime Economics and Logistics di Rotterdam. Saya sebenarnya sudah menolak secara halus di email, saya tahu bahwa SPIL adalah salah satu top 5 dari perusahaan pelayaran kargo di Indonesia seperti halnya Meratus atau Samudera Indonesia. Namun, seperti saya bilang, saya sedang focus ke Pelindo 1 saat itu. Apalagi masih ikut seleksi Angkasa Pura 1. Dua BUMN ternama dibandingkan perusahaan lokal swasta, saya agak memandang sebelah mata. Meski saya menjalani seleksi di Angkasa Pura lebih karena adanya arahan orang tua, bukan panggilan hati, tapi saya meyakini sampai saat itu pasti BUMN lebih baik daripada swasta. Karirnya lebih terjamin, lebih aman dan lain sebagainya. Maka saya tolaklah secara halus di email, mengatakan kondisi saya sejujurnya tetapi juga menyampaikan jika Bapak GM mau bertemu saya dengan mengetahui kondisi saya ini maka saya akan hadir.

Email Sent!

Email pun terkirim. Saya ga ambil pusing. Sampai selang 10 menit kemudian, handphone saya bordering dari nomor yang tidak saya kenal. Saya angkat, dan benar saja dia adalah Bapak GM HRD SPIL itu. Saya kaget mengetahuinya ketika dia mengatakan siapa dirinya, merasa tidak siap dan tidak enak saya melanjutkan pembicaraan. Dia tetap dengan baik mengajak saya bertemu. Karena memang saya menjanjikan hal serupa, saya pun memenuhi permintaannya. Saat itu sebenernya Ibu saya sedang sakit, tapi ia mengijinkan saya pergi menemui undangan ini. Mengebutlah saya ke lokasi pertemuan menggunakan motor tunggangan saya menerobos macetnya ibukota di panas tengah hari bolong. Disana si Bapak sudah menunggu saya di lobby hotel, saya tersenyum dan dengan sedikit peluh menyalaminya. Singkat cerita, dia tetap berusaha mengajak saya untuk mengikuti seleksi di SPIL. Dikatakan bahwa saya akan ditempatkan di Surabaya saja, tidak usah ke luar Jawa. Dia paham ketertarikan saya di Pelindo 1, tetapi apa salahnya mencoba. Kalau tidak suka nanti bisa keluar kok. Jujur berat bagi saya menolak ajakannya saat itu, tapi bagaimanapun saya masih berpikir Pelindo 1. Beberapa kali dia mangatakan bahwa benefit yang akan saya dapat akan lebih besar di SPIL juga menceritakan bagaimana karir di BUMN itu sangat lama. Saya juga memahami itu, saya makin kebingungan samapai saya akhirnya sedikit mengada-ngada soal ijin orang tua untuk kerja di BUMN saja. Tetapi dia tetap keukeuh, sampai akhirnya dia memberikan saya waktu untuk berpikir. Take your time katanya, saya katakana saya akan mengabarinya dalam waktu 3 hari. Meskupun saya pulang saat itu masih dengan keyakinan saya tetap di Pelindo saja kalau diterima.

Nyatanya ketika saya diterima Pelindo 1, saya tidak langsung mengabari GM HRD SPIL tentang kondisi saya ini. Untungnya saya lupa! Hahaha ya saya lupa. Padahal saat itu sudah seminggu lebih sejak saya terakhir kali bertemu dengannya. Ketika pada akhirnya nasib saya tidak jelas di Pelindo 1, saya baru teringat dengan tawaran SPIL ini. Namun, malu untuk menghubungi lebih dulu dan masih mencoba menunggu kabar dari Angkasa Pura. Cuma, memang Tuhan punya cara lain untuk menggoda hambaNya. Tuhan Maha Bercanda. Ternyata saat saya menjalani wawancara Angkasa Pura yang kebetulan memang tidak begitu lama setelah saya menolak Pelindo 1, diketahui bahwa saya akan ditempatkan di bagian HRD. Disitu saya makin bingung, karena buat apa juga saya susah-susah sekolah S2 maritim di luar negeri, kalau ujungnya jadi HRD di bidang kerja yang bukan maritime. Saya hanya sanggup tersenyum dan menyangka semua usaha ini sia-sia sudah. Tapi ternyataa Tuhan bukan saja hanya Maha Bercanda, begitupun dia juga Maha Pengasih dan Penyayang. Ternyata semua drama yang saya lalui itu tidak lain tidak bukan hanyalah ujian bagi saya. Ketika saya buntu seperti itu, bingung mau menghubungi GM HRD SPIL bagaimana, merasa malu dan tidak enak karena dulu pernah menolaknya. Justru secara misterius, Bapak GM HRD ini duluan yang menghubungi saya. “Jadi bagaimana Pak Wegit? Apa ada kabar?”

Langit tidak runtuh saat itu, meski rasanya berat menjalani drama yang begitu melelahkan ini. Whatsapp text dari GM HRD SPIL ini melegakan hati saya. Hanya saja kemudian saya menanggapinya tidak dengan suka cita, saya melakukan apa yang namanya manajemen ekspektasi. Bagaimana tidak? Sudah banyak drama yang saya alami dalam mencari pekerjaan ini. Jangan sampai semua terulang lagi bahwa ketika saya sudah terlalu excited dan berharap tapi semua kandas. Saya berdoa sebelum membalas whatsapp textnya, kemudian saya nyatakan saya mau untuk diproses lanjutan di SPIL. Tak begitu lama, dia sampaikan bahwa lusa saya akan ada Skype call dengan Direktur Operasional SPIL di Kantor Cabang di Tanjung Priok. Saya ikuti semua prosesnya perlahan dan sabar. Saya juga menanti pengumuman final dari Angkasa Pura 1. Ketika hasilnya keluar, ternyata saya juga tidak berjodoh dengan Angkasa Pura 1. Maka semakin mantap saya untuk menerima tawaran di SPIL. Saat itu saya sudah tak melamar kerja di perusahaan manapun. Saya sudah merasa lelah sekali, hati saya sudah dibawa terbang dan dijatuhkan berkali-kali. Saya hanya berdoa semoga saya berjodoh di SPIL ini. Toh memang bidang industrinya cocok dengan saya kok. Cuma masalah statusnya saja berbeda, saya akui saya government oriented. Dari mulai PNS dan BUMN saya ikuti dengan antusias, giliran swasta begini saya agak pilah-pilih. Beberapa kolega bilang, “yah sudah jauh-jauh kuliah di Belanda masa di SPIL git?”. Tapi orang tua saya cukup bijak menasihati saya, bahwa saya cukup percaya dengan diri saya sendiri saja dan apa kata orang tidak usah dipedulikan. Ditambah kekasih saya juga mendukung penuh segala putusan saya, dia yang mengetahui segala proses pencarian kerja saya dari awal sampai sekarang dan tidak pernah dia menuntut macam-macam atas langkah yang saya ambil. Saya makin tenang. Dua komponen terpenting dalam hidup saya mendukung saya, dan itu jauh dari perasaan cukup dari apa yang bisa saya minta.

Terakhir, saya janji ini adalah paragraf terakhir hahaha. Tulisan ini sudah begitu panjang untuk di baca memang. Saya juga tak sempat mengoreksi ulang apa kontennya, saya tulis begitu saja jadi maaf jika memang tidak terlalu sistematis hahaha. Karena intinya saya hanya ingin mengabadikan pengalaman hidup saya saja. Semoga bisa jadi pengingat bagi diri saya sendiri dan mungkin bisa diambil sedikit pelajaran bagi yang membaca. Yang mungkin mengalami kegelisahan yang sama. Memang pilihan bekerja tidak hanya di jalur professional, bisa saja anda ditakdirkan menjadi pebisnis hebat atau seorang peneliti/dosen. Namun, kegelisahan pencarian jati diri ini pasti dialami semua orang apalagi pada usia yang dikatakan mendekati midlife-crissis seperti saya ini hahaha. Lalu, pada 29 Maret 2018 saya mendapatkan offering kontrak kerja dengan SPIL. Semua benefit yang saya minta dipenuhinya, saya juga ditempatkan di Tanjung Perak, Surabaya sehingga masih cukup dekat dengan keluarga karena masih di pulau Jawa hanya 2 jam menggunakan pesawat udara. Namun, yang paling utama dan membuat saya kaget adalah posisi yang ditawarkan pada saya, saya langsung di beri amanah sebagai supervisor atau middle level management. Lebih tepatnya posisi saya adalah Inland Service Outport Supervisor yang bertugas mengontrol proses keluar masuknya barang dari dan ke pelabuhan dengan fokus distribusi barang dari sisi laut untuk kemudian diteruskan kepada customer yang berada di sisi darat atau inland. Saya insyaAllah akan mulai berada di Surabaya paling lama per 6 April 2018 besok. Saya mohon doa dari teman-teman agar saya terus bisa berkarya dan berkontribusi untuk mewujudkan ultimate goal saya di masa depan. Dengan ini pun, saya mengakhiri sesi sharing pengalaman saya dalam mencari pekerjaan, derita dan usahanya.  Saya yakin tidak ada yang akan mengkhianati usaha. Jangan pernah menyerah, perasaah depresi itu wajar kok ada. Saya juga sudah beberapa kali mengalami mental breakdown karena hal ini. Tapi tetaplah berada pada lingkungan yang baik dan supportive agar kita tidak kehilangan arah. Semangat, Tuhan memang Maha Bercanda karena toh kita ini memang hambaNya jadi ya suka-suka Dia saja kan. Tapi ingat lah Dia juga Maha Mendengar, Maha Mengetahui yang ghaib, jadi selama ada iman percayalah Dia selalu mendengar doa-doa kita dan terlebih dia mengetahui apa yang baik dan buruk untuk kita sementara kita tidak. Wallahu A’lam Bishawab.

Sampai jumpa di tulisan berikutnya ya. Ciao!

Dari sudut kamar kecil yang sebentar lagi akan saya tinggalkan,

Wegit Triantoro

Advertisements

Surat untuk Shofy

Dear Shoffy,

Rasanya pagi ini seperti tersambar petir, mendadak kepala gue pusing, gue sangat terkejut mendengar kabar bahwa lo sudah berpulang ke Rahmatullah. Jam 10.03 waktu Rotterdam, membaca sebuah pesan singkat di Whatsapp dari Mila, gue sedikit paham ini bukan sesuatu yang biasa, tapi gue coba tepis bayangan jelek apapun, Shoff.

Giit,

Ada kabar soal Shoffy

Setelah mengirimkan pesan balasan menanyakan keadaan,  gue paham kalau jelas ada sesuatu, respon Mila ga secepat itu setelah membaca pesan gue. Gue tau dari Instagram lo Shof, kalau lo emang lagi liburan di Jawa Tengah. Kemarin malamnya bahkan entah tanpa ada angin apapun, lo bales Insta Story gue yang lagi ngepos pose foto di depan PPMT UI ketika gue dan tim sedang Monev Internal PKM 4 tahun lalu. Dengan bahagianya lo ngeledekin gue dan bilang:

Yaampun jaman gw masih manggil lo “kak wegit” kayaknya deh ini wkwkwk

Ledekan atau guyonan yang gue udah tau khas lo banget, dan gue pasti bisa nebak lo pasti komen ini di Insta Story gue. Karena bagaimanapun pertemuan pertama kali kita ya karena PKM dan PIMNAS… Jujur gue ga ngebayangin kejadian siang ini bisa sampai sejauh ini, lo meninggal karena kecelakaan selagi liburan. Gue paham pesan dari Mila itu berarti sesuatu yang buruk terjadi, tapi gue ga membayangkan sejauh itu Shof, bahkan gue menepis semua kemungkinan adanya kejadian buruk buat lo. Lo anak yang ceria, periang, gue yakin semua yang kenal lo pasti gak tega ada kejadian buruk menimpa lo. Kita semua pasti sedih Shof, pasti itu pasti!

Ya mesti kita sering banget ngebuli lo, karena penampilan lo yang gak kayak anak usia 22 tahun. Kita sering ngeledekin lo kayak anak kecil, masih kayak anak SMP ditambah lagi sifat yang selalu ceria itu, yang gabisa marah sama orang, yang kalau ngambek juga cuma sebentar abis itu lupa. Kita gabisa ngapa-ngapain selain ketawa dan tersenyum melihat lo kalau udah gitu, sebel pengen jitak tapi pasrah karena lo adalah temen yang kita sayang sama-sama. Gue tau lo juga tipe orang yang filantropi, lo selalu deh mendahulukan kepentingan orang diatas kepentingan lo. Lo selalu bisa mencari alasan kalau kebaikan bersama itu perlu diperjuangkan. Lo adalah pemimpin yang baik Shof, gue perlu katakan itu. Bahkan disaat gue yang ngurus UI to PIMNAS, sebuah organisasi dan mimpi yang kita bangun demi UI lebih baik di PIMNAS, gue yakin lo bisa dan ngurus keberlanjutan mimpi ini. Gue bisa liat itu dari mata lo, bahwa lo punya mimpi yang sama, terlepas dari gender, terlepas dari pandangan orang lain kalau pemimpin itu mesti cowok dan mesti tegas. Tapi, kita semua salah Shof, lo bisa membawa nafas UI to PIMNAS lebih bergelora. Semua justru dengan gaya lo yang periang itu. Lo malah justru bisa melobi petinggi rektorat untuk lebih nyata dan kongkret membangun PIMNAS UI. Bahkan gue tau lo sampe magang tambahan buat bangun wujudin mimpi UI bersinar di PIMNAS. Mimpi kita bersama Shof, mimpi gue, lo, Mila, Isna, Ardes, Umi, dan temen-temen keluarga PIMNAS UI. Ya keluarga, kita bahkan punya grup Whatsapp sendiri yang namanya UI to PIMNAS Family kan? Kita keluarga Shof, bukan sekedar teman kumpul retjeh di sore hari. Bukan cuma orang yang ketemu di stasiun kereta api hanya untuk sekedar lewat begitu aja. Kita keluarga yang dipertemukan dan dipersatukan dengan mimpi sederhana, usil, dan ganjil. Sederhana karena kita ingin yang terbaik untuk UI, usil karena kita terus mencoba meyakinkan pimpinan rektorat maupun dekanat tentang pentingnya mimpi ini dan ganjil karena kita berjuang di ranah yang orang ga banyak liat dan tau bukan sebuah hal yang prestigious. Tapi justru PKM dan PIMNAS yang mempertemukan kita menjadi suatu keluarga kecil yang pantas untuk dikenang.

Lucu  juga kalau diingat bagaimana kita memanggil lo dengan sebutan ‘Dek’, karena baju M saja kita yakini terlalu besar untuk lo pakai. Dek copi atau Dekcop… Hahaha, tapi lo emang pantes gue panggil adek sih, adek yang bandel selalu ngelawan kakaknnya. Untungnya hubungan kita ga cuma berhenti di PIMNAS atau PKM ya, bosenin banget tentunya kalau cuma itu. Di luar itu lo jadi tempat gue curhat, terlepas dari betapa banyaknya orang yang gue banjirin cerita dan keluh-kesah gue, lo termasuk golongan yang sabar dengerin. Bahkan sering banget gue mampir nongkrong di Lab lo, ngeliatin lo nyuci-nyuci pipet dan tabung reaksi sambil gue cerita ga jelas Cop. Padahal kan lo ‘adek’ gue harusnya, tapi kenapa lo bisa lebih sabar daripada gue haha. Beda dari gue, lo tuh anaknya pinter abis, riset banget, cocok lah jadi anak Tekkim. Sementara gue anak teknik yang kalau kata lo udah terlalu “dinamis” haha. Saat-saat gue “nganggur” nunggu pengumuman beasiswa sambil magang di FTUI, saat lo sibuk sama skripsi, kita malah jadi lebih banyak ketemu, makan bareng, ngobrol banyak hal. Salah satu cerita yang banyak kita diskusiin adalah kuliah di luar negeri. Ya saat itu kita sama-sama punya mimpi kuliah di luar negeri, gue yang saat itu masih ngejar beasiswa LPDP dan mimpi dapet LOA dari Univ di Belanda di bidang Maritime. Sementara justru lo mulai bergerak beda arah dan mau “dinamis” kayak gue dengan jadi Technopreneur, sesuatu yang bahkan gak pernah gue bayangin Cop. Yang kalo gue bilang itu sama aja kayak Entrepreneur, lo pasti sebel sama gue dan nyerocos dengan banyak penjelasan tentang perbedaannya. Apapun itu, kita sama-sama punya mimpi yang sama ya Cop. Mungkin itu juga yang jadiin kita makin lama makin nyambung. Kadang kalau ngobrol udah terlalu malem, gue nganterin lo ke stasiun Pocin, mana kali ada kolong-wewe nyari anak kecil atau lo nyasar kayak kebiasaan lo itu selalu salah jalan padahal udah sering lewatin.

Suara sirine penghalang jalan di rel stasiun Pocin serasa berbunyi di kepala gue sekarang Cop. Momen-momen dimana semua terasa bahagia, padahal lo tau semua busuk gue, “pujangga” salah kaprah, pengangguran kelas kakap, dan pemimpi ngawur. Tapi, masih bisa-bisanya lagi lo sabar gitu nemenin gue di masa-masa kelam gue itu. Padahal kalau dipikir, lo tuh cemerlang, temen lo banyak dari mulai aktivis kampus, akademisi, dosen muda, anak-anak kecil (yang jelas ga seumuran sama lo saat itu), dan macem-macem. Tapi masih mau nemenin gue yang rusak itu dari kerjaan gue yang gak jelas. Little did know, kalau kita suka main-main ngawur kayak iseng-iseng liat lukisan di Galeri Nasional Indonesia di Gambir. Lo dan gue yang sok tau ngeliat lukisan yang sama-sama gak kita pahami, gambar kaligrafi yang dinamakan “Dinamika Keuangan” lah. Sampe akhirnya kita pulang keujanan deres banget dan nyebur ke comberan di depan SMAN 38 Jakarta yang ga keliatan karena genangan air yang nutupin jalan. Gue yang minta maaf ketakutan lo kenapa-kenapa, justru lo malah ketawa ngakak sambil benerin kacamata tebel lo itu yang gue gatau kenapa bocah sekecil lo minusnya gede banget.

Lo juga sempet nyamperin gue di Jogja, kala itu gue udah diterima beasiswa LPDP dan tengah les bahasa inggris demi dapetin IELTS sesuai dengan persyaratan kampus. Lo bilang lo juga lagi travelling aja sambil jenguk kakak lo yang seumuran gue yang lagi kuliah di UGM, kayak yang lo mau lakuin persis liburan ini Shof. Kala itu gue ngajakin lo main di Malioboro, gue sampe minjem motor temen gue untuk jemput lo. Tapi saat itu ujan lagi Cop, inget ga? Jadinya rencana berubah dan lu kayaknya deh ngusulin nonton film di Ambarukmo. Gue ngikut aja, sebenernya gue lagi ga banyak duit saat itu, gue lagi nabung karena jaga-jaga kalau test IELTS gue ini hasilnya gak sesuai harapan, gue bisa test ulang sendiri. Cuma karena lo udah bela-belain lowongin waktu, gue ayokin aja meski gerimis di Jogja malam itu gue tancap sekalian jemput lo yang abis naik bus dari Solo. Kita nonton film In The Heart of The Sea, sebuah cerita tentang seorang pemburu paus untuk diambil lemaknya sebagai bahan bakar pada akhir tahun 1800an. Setelah sebelumnya kita makan soto mie di pinggir jalanan sekitar Ambarukmo dan lo ngingetin gue untuk solat Isya dulu.

Hal-hal retjeh ini kembali hadir Cop di kepala gue. Setelah gue sempat pening dan nangis sesenggukan. Ya, gue sedih Shof lo udah duluan. Meski gue yakin dan teramat yakin, that is for good indeed. Lo anak baik dan disayang banyak orang, gue yakin kepergiaan lo ini adalah suatu pertanda bahwa amal bakti lo sudah cukup di dunia ini. Lo udah memberikan rasa persahabatan ke temen-temen lo, rasa kasih sayang ke keluarga lo dan rasa bahagia dan nyaman ke orang sekitar lo dan ga perlu dilama-lamai lagi, Allah sayang lo Shof makanya dia manggil lo duluan daripada lo terkontaminasi disini. Meski kita sedih, tapi kita juga seneng karena lo udah memenuhi amal bakti yang baik selama di dunia Shof. Gue tau omongan gue terlampau lebay untuk ukuran seorang Wegit, dan lo pasti kalau masih disini udah neriakin dan ketawain tulisan gue ini. Ndak apa, lo ledekin gue aja dari Surga sana ya. Kapan lagi gue diledekin lo dari langit ketujuh. Lo bilang lo sempet iri sama gue, karena lo ga dapet beasiswa ke luar negeri, lo pengen banget juga ke Wageningen karena beberapa kali gue dorong-dorong biar lo kuliah di Belanda juga. Tapi rasanya beasiswa ke Surga jauh lebih layak buat lo Cop. Gue adalah kakak yang bangga pernah mengenal lo, dan kita semua sangat berterimakasih karena lo ada di salah satu sekat kehidupan kita yang fana ini. Bahkan di penghujung hayat, lo tetap ceria dan periang! Seolah lo gamau bikin kita lebih sedih lagi. Lo bahkan masih semangatin gue buat nyelesaiin thesis, dan yakin kalau gue bisa meraih mimpi-mimpi gue. Bahkan beberapa jam sebelum lo gak ada, lo masih balesin postingan temen-temen, gue perhatiin lo ga ada tanda-tanda bakal kenapa-kenapa. Karena ini emang bukan apa-apa, lo pergi for good, buat hal yang lebih baik. Gue berdoa semoga sanak saudara lo juga tabah melepas kepergian lo. Mungkin ga seberapa lama kita juga akan nyusul lo Cop. Karena dari semua perjalanan, kematian adalah hal yang mutlak dan pasti adanya.

Hari ini hari Jum’at, hujan deras mengguyur Rotterdam Shof dari pagi. Katanya Juma’at dan hujan adalah perpaduan yang tepat untuk berdoa dan Sudah gue selipkan doa untuk lo Shof. Semoga doa dapat menumbus dimensi lain yang memisahkan kita dan semoga dengan doa kita terus dapat berkomunikasi. Meski kita semua kehilangan seorang adik kecil bernama Shofiyyah Taqiyyah, tapi memori baik tentangmu akan terus terkenang.

 

 

Tak mampu melepasnya
Walau sudah tak ada
Hatimu tetap merasa masih memilikinya

Rasa kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah merasa memilikinya

Pernahkah kau mengira kalau dia kan sirna
Walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa

Rasa kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah merasa memilikinya

Letto – Memiliki Kehilangan

 

Harap

Pukul 00.55 dini hari waktu Rotterdam…

Saya belum bisa tidur, ada perasaan sedikit mengusik dan menggelitik. Seperti membawa saya kembali ke masa lalu, tentang berharap. Berharap adalah salah satu kata kerja yang tak biasa. Satu kata yang membuat kebanyakan dari kita pasti pernah merasakannya, seperti berharap ingin punya sepeda baru, atau pergi ke bioskop pertama kali, atau mendaki gunung atau berharap banyak hal lainnya.

Saya sangat sering berharap dan mungkin seperti kebanyakan juga diantara harapan-harapan itu banyak yang sebagiannya tak sesuai keinginan. Pernah saya dibuatnya sesak, sakit sekali tapi tak ada luka fisik. Yang ada hanya helaan nafas yang terrngah-engah dan pandangan mata kosong meratapi nasib. Saya pernah meringis-ringis, menggugat Tuhan, seolah Dia tak adil menempatkan pilihan-Nya. Saya pernah se-sesak itu yang tak bisa saya jabarkan, mengingatnya sekarang pun masih terasa sedikit mengganggu. Tetapi saya akui hal-hal yang tak sesuai keinginan itu, justru adalah segala guru yang mengajarkan tentang hal lainnya yang jauh lebih berharga: ikhlas. Kata ini merupakan kata sifat, ia tak bisa dikerjakan, ia adalah bentuk murni yang kita dapatkan dari banyak kata kerja lain seperti berharap, belajar, berusaha dan lain sebagainya. Ikhlas adalah kata yang jauh lebih luas, lebih arif, lebih dalam daripada berharap. Jika harapan yang tak memenuhi keinginan menimbulkan sesak yang tak bisa dijabarkanm, ikhlas dapat dengan tenang menampungnya.

Malam ini ketika harapan yang sama seperti dulu itu muncul kembali, harapan untuk dapat mengasihi. Harapan untuk kembali percaya lagi. Harapan yang bisa melahirkab semangat berjuang yang besar. Serta harapan yang sama untuk kembali menjadi seorang yang terkasih. Namun kali ini yang terlintas di benak justru bukan sisi indahnya saja. Terbesit perasaan sesak apabila harapan itu tak sesuai keinginan dan seketika saya pun kembali membangun tembok itu. Membatasi harap yang belum pasti juga dengan khayalan lain, hanya saja kali ini khayalan itu adalah versi yang tidak diharapkan. Supaya saya sadar bahwa berharap saja tidak cukup, saya perlu ikhlas terlebih dulu bahkan jauh sebelum saya mengetahui hasilnya.

Malam ini hanya ada dua pepatah yang saya ingat dan terngiang-ngiang di kepala. Yang pertama, “Jika sesuatu memang ditakdirkan untukmu, tidak akan pernah dalam seribu tahun orang lain akan merenggutnya darimu”. Yang kedua, “Dan jika memang hal yang engkau sesali itu memang terbaik untukmu, percayalah seharusnya kau sudah mendapatkannya”.

Intinya adalah berharap itu baik, berusaha untuk mewujudkan harapan juga baik. Namun, memahami bahwa semua itu sudah dalam perhitungan Tuhan dan bisa untuk ikhlas menerima apapun hasilnya adalah suatu keniscayaan yang sampai sekarang masih saya coba hayati.

Sehingga malam ini saya masih tersenyum-senyum sendiri, belum dapat memejamkan mata meski cahaya kamar sudah mati dari sejam yang lalu. Saya pun berharap cahaya yang saya dambakan itu kelak bisa menjadi kenyataan. Pun jika tidak, semoga saya bisa ikhlas merelakannya bersinar di tempat lain yang lebih baik tentunya…

Dari sudut kamar kecil di kota Rotterdam.

Menunggu

Aku terjaga diantara senja dan sejuknya angin malam, pada kedua kelopak matamu yang layu

Aku tertatih merintih perih dalam pelukkan angin kosong, mengadah pinta dan harap dibawah langit gelap

Merangkak… membungkuk… kikuk…

Aku menunggu pasti ketidakpastian yang kau jelma menjadi semu dalam detik waktu jam pasir

Sebuah pertanyaan akan datangnya harapan yang ditunggu atau penyesalan penantian

Semua tanya yang menggenang dan mengendap lama dalam pikirku hingga merasuk ke sukma

Merasuk dan membusuk…

Aku sebuah tanya akan penantian ataukah aku penantian yang dipertanyakan?

Pada sebuah kertas kutuliskan harap, lalu kumasukan ke botol dan ku lempar ke hamparan laut luas

Biarkan ia tergenang dibawa ombak atau mengendap ditelan badai

Pada bidadari yang baik hati kutitipkan surat itu, entah kapan kau datang dari langit menjemputnya

Aku menunggumu dalam kefanaan

Tanah Airku

Really really love what Najwa wrote on her Catatan Najwa, moreover the backsound of most emotional song ever Tanah Airku played very smooth and gently.

Kindly reminder to me, really deep indeed…..​

Story goes on…

Hahaha mungkin judulnya dirasa aneh dan ga bermutu ya, kayaknya kali ini saya lagi kehilangan banyak ide, saat ini adalah saat dimana saya sedang mengalami yang namanya culuture-academic shock ahahaha. Sungguh edan! Beban kuliah disini berkali-kali lipat lebih berat daripada di Indonesia.Yaa, jadi maklum kalau cuma kata itu saja yang terlintas. Karena memang the story (still) goes on…

Setelah sekian lama dihajar habis-habisan dengan tugas dan juga ujian, baru pagi ini saya bisa merasakan duduk anteng di pagi hari menatap keluar jendela, melihat pemandangan sambal memakan dua helai roti, meminum segelas susu dan juga mengetik cerita ini. Ada perasaan bahagia yang muncul entah dari mana ketika saya bisa melakukan hal kecil yang saya bisa nikmati sendiri. Biasanya.. biasanya nih ya, pagi-pagi rutinitas saya adalah bangun, siap-siap berangkat ke kampus, ya dari mulai mandi, membuat sarapan, beres-beres kamar bahkan kalau masih ada tugas yang belum rampung diselesaikan pada malam sebelumnya saya harus mengecek ulang dan merapikan tugas itu sebelum berangkat. Kelas selalu dimulai jam 9 pagi, dan saya harus berangkat paling lambat jam 8.30 karena perjalanan ke kampus membutuhkan waktu 20 menit, kadang lebih lama karena angina di Rotterdam itu jahat. Dingin dan menusuk, seperti kenangan masa lalu mungkin hahaha. Saya selalu membawa sepeda, lebih sehat alasannya atau lebih hemat tepatnya. Kadang hal ini berimbas pada berkurangnya uang transport yang saya gunakan tiap minggunya, tetapi menambah uang belanja harian karena saya jadi suka makan banyak. Sebisa mungkin saya hindari juga jajan di kampus, maka dari itu setiap kali saya ke kampus paling tidak saya membawa bekal. Kalau lagi sempat, ayam goring atau telur jadi bekal. Kalau tidak, ya paling sama saja seperti sarapan, 2 helai roti yang dilapisi mentega atau selai yang saya bawa. 10 menit sisa di kelas saya habiskan untuk bengong, menghela napas sehabis menggowes sepeda atau menjahili teman saya yang sesame Indonesia haha. Jangan harap bisa telat disini! Ketat, lewat dari 5 menit toleransi, namamu tidak akan dicatat dalam absensi. Dosen pun sering kali dating lebih awal, menyiapkan slide presentasi dan kita sebagai mahasiswanya menunggu, ia tidak akan memulai sebelum jam 9.00 dan tidak akan menunggu lewat dari itu. Disiplin yang kuat. Kadang saya kewalahan mengikutinya.

Saat kelas dimulai semua duduk pada tempatnya yang sudah diatur lebih dulu oleh staff administrasi program. Sampai Desember nanti, tempat duduk kami akan selalu ditentukan dan diacak. Ada 46 orang yang terdiri dari 18 kebangsaan berbeda, pantaslah jika metode ini dilakukan agar kita bisa mengenal satu sama lain. Orang Indonesia? Paling banyak! 12 orang hehe. Syukurlah bentuk nyata dukungan pada sector maritime ini sungguh terasa, banyak orang Indonesia dari kalangan akademisi maupun professional baik dari swasta ataupun pemerintah yang disekolahkan ke luar negeri. Kami 12 orang pun cukup beragam, 4 orang bisa dikatakan masih freshgraduate, 1 orang pengalaman kerja di swasta, 2 orang dari government sector dan 5 orang lainnya dari sector operator pelabuhan. Program kami dibagi dalam 4 blok selama 1 tahun, berarti rata-ratanya tiap blok berjalan selama 3 bulan. Maritime Economics and Logistic atau MEL ini sering mengadakan aktivitas kunjungan lapangan, beberapa waktu lalu kita melakukan kunjungan ke Port of Rotterdam. Itu kali pertama saya melihat pelabuhan dengan system otomasi dimana lapangan penumpukan sangat sepi dari aktivitas manusia. Semua tertata rapih dan sangat canggih. Pengajar atau dosen di program ini juga beragam, kita mendapatkan materi dari pakar di bidang maritime, sains dan juga professional. Ada satu dosen ekonomi yang bekerja di Swiss dan hanya memiliki waktu yang sebentar saja untuk ke Belanda. Sehingga saat ia dating, perkuliahan yang harusnya dibagi dalam 3 bulan dipadatkan hanya 3 pertemuan. Satu kali pertemuan 5 jam, dan besoknya ujian :”)

Tapi memang cara mengajarnya sangat menarik, penuh dengan diskusi yang membangun pola pikir, matang dengan pengalaman dan juga kuat di teori. Kami tidak bosan dan tidak mengeluh selama kuliah berlangsung (kecuali saat ujian keesokan harinya). Hampir setiap hari pasti ada kelas, dan hampir setiap hari juga ada kumpul kelompok membahas tugas. Disini, semua serba cepat, iramanya kencang wus wus wuus wuuuss sekencang anginnya memang. Saya bisa pulang sampai jam 7 malam meski kelas berakhir jam 12 siang. Sesampainya di rumah bersih-bersih, makan kemudian tugas lagi. Gak kelar-kelar rasanya. Bahkan sampai Sabtu pun saya masih perlu mengikuti kelas Bahasa Inggris yang diadakan oleh pihak kampus selama 3 jam. Jadi bisa dikatakan Senin-Sabtu dunia saya masih berkutat dengan kampus…..

Tapi itulah pilihan yang saya buat, kompensasinya adalah saya mendapatkan banyak sekali pengalaman dan juga kesempatan untuk akselerasi diri plus jalan-jalan tentunya hahaha. Setiap minggu saya usahakan untuk jalan-jalan, paling tidak di kota Rotterdam. Mungkin sudah agak susah sekarang kalau mau jalan-jalan keluar kota. Tapi saya pastikan minggu saya tidak mau memegang hal yang berbau akademis. Minggu seperti meditasi yang saya lakukan demi menjaga kewarasan. Yeah everybody needs that! Kalau tidak bisa gila nanti. Saya sadar akan tujuan utama saya dating kesini, mencari pengalaman dan juga ilmu. Saya sadar tugas saya sebagai mahasiswa, saya pun tidak ingin mendapatkan hasil yang buruk untuk mata kuliah yang saya ambil. Tetapi bagaimanapun, manusia bukanlah robot, saya telah mengikuti 2 ujian dan hasilnya sudah keluar. Dua mata kuliah yang sama sulitnya, Economics dan Statistics. Alhamdulillah hasilnya memuaskan. Sehingga saya merasa wajib menjaga kesehatan hati saya agar tetap bisa waras sampai akhir tahun nanti. Apalagi setelah Januari, jadwalnya akan sangat padat sekali saya sudah diwanti-wanti oleh pihak kampus. So, hiburlah diri kalian jangan terlalu serius pun jangan main-main. Inilah saat dimana kita harus memilih dan menyeimbangkan. Kalau ini mudah, tidak akan sedikit yang akan mencobanya, tapi karena ini layak antara usaha dan kompensasi mestilah di jaga ya kan?

Bahkan pada akhirnya saya juga mendapatkan amanah menjadi salah satu ketua divisi di PPI Belanda tahun 2016/2017. Awalnya agak ragu, mampu gak menjaga konsistensi kuliah, tetapi saya yakin pasti bisa. Selama masalah kompensasi dan usaha ini dijaga. Ada hal dalam diri kita yang perlu di apresiasi, ada hal yang perlu diusahakan sekuat tenaga, ada hal yang perlu dilepaskan. Semua ini butuh komitmen, semua itu dimulai dari tekad dan harapan. Sehingga saya pada akhirnya memilih menjalankan amanah baru di PPI Belanda, tetapi tidak melupakan tugas besar sebagai mahasiswa dengan menjaga nilai di kelas, dan tak lupa kompensasi diri dengan libur dan menyenangkan diri sendiri. Toh cara bersenang-senang tiap orang berbeda kan, seperti saya saat ini yang hanya mengetik sebuah cerita di blognya sambal menyantap sarapan pagi dan menikmati pemandangan dari samping jendela kamar?

Siapapun kita, apapun mimpi kita, bagaimanapun masalah yang dihadapi, above all do not lose hopes!

Dari kamar kecil di sudut kota Rotterdam

di penghujung musim gugur

Belanda, 11 November 2016

7 Hari Pertama di Belanda

Sebuah kisah bermula dari mimpi dilanjutkan aksi, dijalani maka tak terasa kita akan sampai di akhir kisah itu sendiri….

Akhirnya saya di Belanda, wuuuh, bahkan sudah hampir 7 hari saya ada di negeri ini lebih tepatnya di kota dimana 1 tahun akan saya lewati untuk studi S2 yaitu Rotterdam. Sudah ngerasain jalan kaki dorong 2 koper super gede, salah naik tram, bingung naik kereta di peron mana, ketinggalan kereta karena kelamaan parkir sepeda, paha dan kaki pegel luar biasa karena gowes hampir 10 km tiap harinya, jalan-gowes-jalan-gowes terus terusan, ikut solat jumat yang ga paham ceramahnya, sampai kedinginan tiap malemnya. Segala bentuk dari lelah, penat, jetlag, culture shock saya alami selama hampir 7 hari disini. Jauh dari ingar bingar yang saya bayangkan, daerah tempat saya tinggal yaitu Rotterdam Alexander merupakan daerah pinggiran yang tidak terlalu kekotaan, bahkan lebih ke daerah pedesaan. Banyak danau disini dan burung atau bebek haha. Saya ga sadar kenapa saya justru kerasan dengan situasi ini. Meski jauh dari kampus, jauh dari pusat kota, jauh dari teman (saya sendirian disini), tapi seru aja punya banyak waktu untuk merenung, untuk nyasar ga jelas dan liat pemandangan baru, teduh walaupun tetap harus pegel-pegel karena jauh dari mana-mana. Tapi saya rasa itu harga yang layak dibayar untuk semua ketenangan ini.

Satu hal yang pasti, saya masih belum seratus persen nyaman dengan semua perbedaan anatara Belanda-Indonesia. Setiap kali terbangun masih saja saya membayangkan diri saya ada di kamar tidur di lantai atas rumah saya di Depok. Sering gelagapan karena kalau bangun disana jam 5.30 itu udah terang banget. Disini malah jam 6 baru sunrise. Saya kangen krucil bocah, debat sama kakak-kakak saya, diomelin ibu dan bapak karena teledor dll. Rusuh sih yang diinget yg jeleknya, tapi justru itu yang ngangenin, disini terlalu tenang, hal itu baik tentu tapi saya tetap gabisa ngilangin gitu aja keseharian saya sama keluarga di rumah yang sangat melekat. Apalagi 1 tahun terakhir nunggu kuliah dimulai saya banyak habiskan waktu di rumah. Tapi sekarang saat saya sudah di sini, di negeri ini, justru hal yang paling saya tunggu 1 tahun itu justru membuat saya banyak berpikir ulang…. Benarkah saya ditakdirkan disini?

Ada perasaan senang bahkan overjoyed mungkin karena akhirnya salah satu dari wishlist hidup kamu udah terwujud. Datang ke negera asing bukan sekedar liburan tapi untuk melanjutkan studi. Tapi seperti ga sadar atau ga siap, kita menanggung semua paketannya. Rasa grogi akan dunia baru yang ga pernah kamu lalui, takut akan kegagalan di tengah perjalanan, ataupun kesepian jauh dari orang-orang yang dicinta. Keluar dari zona nyaman sungguh membuat saya risih, gelisah bahkan susah tidur selama hari-hari awal disini. Katanya dulu ketika saya ikut semacam acara persiapan keberangkatan, orang baru akan melewati 4 fase kehidupan disini. Fase turis, fase benci negara ini, fase mulai terbiasa, fase suka negara ini. Entah kenapa saya langsung berada di fase dua, fase benci negara ini. Ya masih agak norak dengan hal-hal baru yang saya liat lalu saya post di akun social media tapi ga nutup bahwa saya “benci” dengan kondisi ini. Benci karena justru ketika saya sudah merasa meraih semuanya, bayang-bayang ketakutan itu muncul. Ya benar, ini kali pertama saya going abroad, sebelumnya saya ga pernah ikut-ikutan konferensi international, organisasi international macem AIESEC di kampus, atau apapun yang kaitannya sama jalan-jalan keluar negeri. Dulu sempet mau presentasi paper di Kuala Lumpur, tapi karena saya harus ikut Program Persiapan Keberangkatan dari LPDP saya pupuskan kegiatan itu. Sekarang disinilah saya, membodohi diri sendiri dengan segala sumpah serapah karena ketakutan yang saya ciptakan sendiri…

Beberapa kesempatan yang lalu saya sempat ketemu dengan kumpulan teman internasional sejurusan dan bahkan mengunjungi acara wisuda MEL 2016. 2 acara yang cukup menampar saya berkali-kali memberitahukan kenyataan di depan mata, ga selamanya saya bisa terus-terus ketakutan, sendirian atau malah terlalu santai. Saya sengaja datang 2 minggu lebih awal daripada jadwal kuliah, selain mempersiapkan soal administrasi kampus dan urusan beasiswa, saya juga ingin bersiap terhadap culture shock disini. Tapi bukan culture shock dari luar yang saya dapatkan, saya malah merasa biasa saja pada budaya-budaya disini paling tidak saya bisa membayangkan bagaimana negara asing dari cerita-cerita yang saya dapatkan di Indonesia dulu. Tapi soal inner-shock yang saya alami ini belum ada obatnya dan tamparan yang nyata saya dapatkand dari 2 events itu benar-benar membuat saya sadar bahwa saya sudah di negeri ini, saya sudah memulai memilih jalan ini, studi di kota terbaik dalam pelayanan logistik kemaritiman di daratan Eropa. Tak elok sekali rasanya saya menyerah pada mimpi yang saya bangun sendiri, membodohi diri sendiri seperti ini tak boleh lebih lama lagi. Maafkan jika postingan kali ini tidak memberikan banyak motivasi atau apapun, justru lebih kuat di keputusasaan, ketakutan, pesimisme akan diri saya sendiri. Tapi justru ini merupakan pelajaran yang sangat terasa bagi saya, pelajaran yang membuat saya sangat galau dan risau beberapa hari belakangan di saat seharusnya saya mungkin senang-senang menjadi turis seminggu haha. Juga saya harap kalian siap dengan semua ketakutan itu, saya harap bagi siapapun pengejar mimpi yang akan melakukan pengalaman pertamanya juga going abroad seperti saya, beranilah menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Entah itu fasenya sesuai dengan urutan yang saya katakan sebelumnya, atau justru berbeda sama sekali itu tak masalah. Tapi pastikan hati dan mental anda siap untuk banyak hal tak terduga. Jika kalian harus galau dan risau atau bahkan takut seperti yang saya alami, tak perlu khawatir, karena saya yakin itu alamiah. Hanya saja sadarkan diri anda segera, batasi waktu anda untuk terus dalam kondisi pesimisme itu, jangan biarkan mereka mengkonsumsi diri anda terlalu lama. Jangan membodohi diri sendiri dengan mimpi yang anda bangun sendiri. Pada dasarnya berani bermimpi maka berani mempertanggungjawabkannya. Kata-kata dan kisah ini saya buat untuk kembali mengingatkan diri saya kembali untuk tidak jatuh dilubang yang sama dan saya mendoakan kalian semua juga mendapatkan jalan keluar dari apapun kegelisahan yang kalian rasakan.

Dan mohon doanya juga untuk 300an hari kedepan selama saya meneruskan studi di negeri ini, di kota ini, agar saya kuat dan mampu tersenyum bahagia di akhir kisah dengan gelar baru di belakang nama saya kelak.

Yes, wish me luck! 🙂

*dari lantai 3 apartemen di daerah Rotterdam Alexander yang tenang*

I love the rain, i love the sound and smell, love the way it pours all the way to the ground to the roof, reflecting all the light above and neglecting all the obstacle ahead just because nothing can stop flowing water. And maybe it has something in the rain that always i can remember about, memories just pop up like bubles inside your head and pumped down to the heart. As simple as that, as random as that, i don’t know which one is stronger. But all is true and all might lead me to somewhere that only me that knows what happening inside of me…

 

i love the rain, cause no matter i am looking for, it pours all the same 🙂

Nieuw avontuur naar studeren in Nederland: Sebuah Perjalanan Mengejar Mimpi Kuliah di Negeri Kincir Angin

Mimpi yang tidak diperjuangkan adalah sia-sia, sementara perjuangan tanpa mimpi adalah buta

Tulisan ini mencoba mengurai salah satu guratan makna dalam hidup saya yang sebenarnya sudah saya sampaikan pada beberapa tulisan sebelumnya: melanjutkan studi ke negeri kincir angin. Perbedaannya pada tulisan ini saya akan menceritakan lebih banyak soal proses perjalanan saya untuk berhasil diterima di salah satu universitas ternama di Belanda, yang pada sebelumnya saya lebih menekankan bagaimana proses pencairian beasiswa. Disini saya akan bercerita dari mulai mendaftar kuliah hingga persiapan keberangkatan seperti aplikasi visa, legalisasi akte, les akulturasi budaya orang Belanda, dll. Gak terasa nih tinggal 27 hari lagi sebelum akhirnya terbang (macem superman aja) ke Belanda.

Anyway, kalau kalian udah baca postingan saya sebelumnya tentang beasiswa LPDP dan beberapa alasan dasar saya untuk melanjutkan kuliah ini akan lebih mudah untuk dipahami hehe (kayak apaan aja ya). Tetapi sedikit review saja, pada intinya saya memutuskan melanjutkan kuliah adalah karena saya masih mencari jati diri, saya ingin memperdalam dan menambah pengalaman lebih banyak dari keilmuan yang saya miliki dengan melanjutkan studi di luar negeri. Hal yang belum saya dapatkan bahkan setelah saya menamatkan jenjang S1. Lantas kenapa harus Belanda? Kenapa bukan yang lain? Nah disini lah cerita saya dimulai hehe.

Setelah saya memantapkan diri untuk mengambil S2 dan menuda untuk langsung bekerja, saya pun menentukan apakah jurusan yang tepat bagi saya. Selama kuliah di TI, saya mendapati bahwa TI itu sangat general sekali, terlalu luas dan umum. Saya tidak bisa mengikuti kecenderungan yang luas tanpa membatasi diri pada topik tertentu. Sampai pada akhirnya ketika saya mengerjakan tugas akhir, saya meneliti tentang usaha pelayaran rakyat (sebuah transportasi yang digunakan untuk mengangkut barang dan orang yang kapalnya terbuat dari kayu, cenderung mengikuti model phinisi tetapi telah menggunakan motor). Lantas saya berpikir bahwa dunia kemaritiman adalah sektor yang perlu dikembangkan, peluang besar bangsa ini untuk bisa lebih maju salah saunya adalah memberdayakan potensi kemaritimannya dan memperkuat sistem penunjangnya. Lantas karena salah satu bagian keilmuan TI berbicara mengenai supply chain dan logistic, saya pun tertarik memperdalam keilmuan ini dengan berfokus pada sektor kemaritiman. Karena seperti kita ketahui biaya logistic di indonesia sangat lah tinggi, biaya mengirim komoditas dari jakarta-nusa tenggara bisa lebih mahal daripada biaya mengirim barang dari jakarta-spanyol misalnya. Keseluruhan, besarnya biaya logistik ini setara dengan seperempat GDP Indonesia per tahun. Saya yakin, sudah banyak ahli dan pendahulu yang menggeluti bidang ini, ini bukanlah ranah yang baru. Tetapi keyakinan saya terletak disini, laut haruslah menjadi pondasi kemakmuran bangsa demi mewujudkan amanat UUD 1945. Paling tidak saya ingin menjadi bagian yang mengusahakan mimpi itu terwujud. Jika saya tidak bisa melihat mimpi itu berdiri, paling tidak saya ingin menjadi batu bata yang menjadi pondasinya.

Melihat itu, saya membuka data bank dunia, logistic performance index menunjukan bahwa 3 negara terbaik dalam pengelolaan logistic adalah jerman, belgia dan belanda. Sehingga pada awalnya saya memutuskan untuk kuliah di jerman, negeri para pelajar. Saya mulai melakukan riset mengenai kampus-kampus di jerman. Saya benar-benar buta pada awalnya, bagaimana caranya? Bermodalkan internet kampus saya membuka Google pada saat itu, dan mengetikan “maritime logistic studies” lalu enter. Ketika jendela berhenti melakukan loading yang sepersekia detik saja, saya melihat bahwa banyak sekali jurusan dari berbagai negara yang menawarkan studi ini. Dari mulai Australia, UK, Belanda, Singapore, Denmark, dll. Saya bingung, saya baca semua webnya, saya teliti, saya klik bagian admission requirement. Saya baca prosesnya. Untuk negara Jerman pada akhirnya saya menemukan kendala, bahwa beberapa jurusan terbaik dari studi yang saya incar ini menampilkan bahasa Jerman yang tidak saya mengerti pada laman web nya. Saat itu saya mencoba bertanya pada senior, dosen, kolega. Mereka menjelaskan bahwa di Jerman sudah menjadi rahasia umum bahwa bahasa Jerman menjadi sangat penting untuk dikuasai. Lantas dari situ mulai tumbuh keraguan, saya bukan tidak mau belajar bahasa Jerman, tapi memperbaiki bahasa inggris saja saya sudah cukup kewalahan, memang soal bahasa ini saya bukan tipikal anak yang begitu cerdas memahaminya. Dari semua pelajaran dari dulu saya paling tidak pede soal bahasa. Salah satu harapan saya pun ketika kuliah di luar negeri mampu memaksa saya keluar dari zona nyaman dan meningkatkan skill berbahasa saya. Tapi dengan menambah satu bahasa lagi untuk dikuasai? Saya rasa waktunya tidak akan cukup. Di jerman butuh minimal level B2, bagaimana biayanya? berapa lama waktunya? lalu test bahasa inggris seperti IELTS juga tetap dibutuhkan, saya prediksi saya akan membutuhkan waktu lebih dari setahun untuk bisa kuliah kalau seperti itu jadinya. Terlalu lama, resiko yang terlalu besar diambil, saya juga ingin cepat kerja.

Alternatifnya saya memindahkan pandangan ke negara sebelah yang juga dikenal dengan sebagai negara pelabuhan, Belanda. Kebetulan saya melihat ada satu jurusan yang dari namanya saja sudah sangat sesuai Maritime Economics and Logistics (MEL), jurusan yang dikelola oleh Erasmus Univ. Rotterdam (EUR) ini merupakan jurusan yang belum lama dirintis, mungkin angkatan pertamanya adalah 2011. Programnya dibuat untuk 1 tahun masa studi dengan pengajarnya adalah campuran dari akademis dan praktisi dari industri terkait, program ini juga merupakan joint program dari 2 fakultas di EUR yaitu RSM dan ESE. Tetapi pada saat itu says tidak terlalu mengetahui mengetahui tentang jurusan ini. Sehingga saya berusaha untuk mencari nama-nama pelajar Indonesia yang pernah kuliah disana, dimulai dengan melihat daftar judul thesis beserta penulisnya (ada di web MEL), kemudian mengetikan nama tersebut di akun Facebook dan membuat percakapan singkat untuk berkenalan dan bertanya hahaha. Kalau diingat-ingat hal itu sangat memalukan deh, tapi bagaimana juga saya butuh info. Jadi saran saya, kalau gatau lakukan saja hal yang diperlukan sekalipun itu aneh (asal tetap ada etikanya ya).

Singkat cerita, dari penjelasan dari seorang alumni MEL saya mendapati info menarik bahwa separuh dari pengajar MEL berasal dari kalangan professional dan MEL lebih menitikberatkan pada pengalaman di lapangan dari pada di dalam kelas sehingga banyak mata kuliahnya yang merupakan kunjungan lapangan ke pelabuhan yang ada di eropa. Cocok dengan minat saya yang memang ingin menggeluti karir professional bukan akademisi dan ketika saya terus mencari tahu dan mencàri sampai titik dimana saya yakin bahwa inilah pilihan yang akan saya ambil. Saya mantap memastikan MEL adalah pelabuhan saya selanjutnya.

November 2015, saya diundang untuk mengikuti pelatihan IELTS yang diselenggarakan oleh LPDP. Sebagai salah satu komponen yang saya terima dari jalur afirmasi. Sebelumnya saya belum pernah mengetahui apa itu tes IELTS, yang saya tahu hanyalah biayanyq lebih mahal daripada TOEFL. Alasan ini juga yang mendorong saya mengambil beasiswa lebih dahulu dengan rentang waktu menunggu kuliah satu tahun  agar bisa mempersiapkan bahasa inggris saya cukup. Pelatihan ini dimulai satu bulan setelah saya diterima sebagai awardee yaitu bulan November dan diperkirakan berakhir pada bulan Februari. Jika nyatanya nilai saya dinyatakan blm mencukupi saya berhak mengikuti kelas tambahan dengan test yang diadakan setiap 3 bulan sekali. Sementara batas pengumpulan persyaratan kampus saya hanya bisa sampai dengan bulan april. Artinya tidak ada waktu lain selain mendapatkan nilai yang cukup di bulan Februari atau tidak sama sekali karena test selanjutnya akan diadakan dibulan Mei. Kalau boleh dibilang proses belajar IELTS ini sangat melelahkan, senin sampai jumat mulai pukul 8 pago sampai 4 sore. Rutinitas itu wajib saya lakukan selama 3 bulan lamanya. Hari-hari terasa sangat melelahkan. Saya tidak tahu jika bukan karena teman-teman yang sangat baik, yang saling memotivasi tiap harinya tentunya saya sudah jatuh entah dimana, tertinggal jauh di belakang. Kebetulan peserta kelas IELTS ini ada 25 orang, dan banyak diantaranya yang berasal dari jurusan bahasa inggris dan ketika saya dengan kaku nya, terbata-bata berdiskusi dalam bahasa inggris, mereka selalu sabar mendengarkan dan dengan baik hati mengkoreksi. Jujur saya sangat lemah soal bahasa, meski saya selalu dianggap lebih baik karena lulusan salah satu kampus terbaik di negeri ini tetap tidak bisa menghilangkan kenyataan bahwa saya merasa sangat senang memiliki teman-teman seperjuangan seperti mereka. Bahkan saya malu sekali rasanya, ternyata apapun “status” yang kita sandang bukanlah jaminan bahws kita lebih baik dari orang lain. Disana saya banyak belajar, belajar tentang kesederhanaan, kerjasama, ke-bhinekaan karena saya satu-satunya peserta dari Jakarta, sisanya teman-teman banyak yang berasal dari Sumatera, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi. So much fun!

Februari 2016, beberapa hari menjelang ujian IELTS saya dihinggapi perasaan yang campur aduk. Apakah saya akan berhasil memenuhi syarat nilai yang diminta pihak kampus? Akankah saya mengulang test untuk kedua kalinya? Bagaimana kalau gagal, dan 3 bulan di Jogja ini sia-sia??? Kerisauan ini menyelimuti saya dalam bayangan yang tak bisa saya ungkapkan, terlebih satu bulan sebelumnya saya meminjam uang 7,5 juta kepada kakak saya untuk membayar biaya pendaftaran ke pihak kampus yang bersifat non-refundable atau gabisa dikembalikan. Waaahh katjau!!! Saking stressnya saya sempat sakit beberapa hari sebelum ujian. Tetapi kemudian meyakinkan diri sekali lagi bahwa inilah momen yang saya tunggu, sebuah momen untuk membuktikan saya bisa melalui tantangan ini untuk menggapai mimpi. Karena jangan pernah kita menunggu keajaiban dunia, make it happen! Karen sesulit apapun ujian hidup kita tidak akan pernah tau hasilnya kecuali dengan mencobanya bukan. Takut? Itu wajar sangat manusiawi. Tetapi yakinilah bahkan setelah selesai urusan saya dengan IELTS ini akan datang ujian lainnya. Hari berlalu datang rintangan baru, sehingga tak akan lebih baik jika kita lari. 

26 Februari 2016, saya dinyatakan lulus dengan capaian nilai IELTS yang sesuai dengan harapan kampus 6.5 overall. Dengan persebaran listening 6.5, reading 8.0, speaking 6.0, writting 6.0. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Saat itu saya sedang membantu dosen saya melakukan presentasi sosialisasi ISO di FTUI dan langsung keluar ruangan untuk sujud syukur dan agak sedikit berteriak kegirangan sih tentunya haha. Satu keraguan telah runtuh pada hari itu, dan kepastian akan mimpi menuju Negeri Kincir Angin telah tersematkan dengan jelas. Saya akan ke Belanda tahun ini! Itu kalimat yang saya ilhami dan sangat bergetar dalam dada seharian penuh, bahkan sampai beberapa hari ke depan.

Kabar gembira itu saya sebarkan ke keluarga, kerabat dekat dan pihak-pihak yang mendukung perjalanan saya mengejar mimpi ini. Tanpa ada satu yang pun yang tertinggal, saya yakin tak akan mampu saya mewujudkan mimpi ini sendiri. Karena terlalu banyak dan besarnya jasa orang-orang di sekitar saya. Saya seorang biasa, tumbuh besar dari keluarga biasa-biasa saja, memiliki capaian prestasi yang biasa, dengan segala keterbiasaan yang mungkin tak seorang pun sadar akan eksistensi saya. Namun, saya mampu melebihi apa yang saya kira tak bisa, saya mampu melebihi batasan diri saya sendiri dan itu sudah lebih dari cukup. Cukup sangat cukup. Saya hanya ingin menjadi diri saya yang terbaik, versi terbaik yang masih banyak ruang untuk dikembangkan.

Maret-Mei 2016, ada beberapa kegiatan yang saya ikuti seperti Persiapan Keberangkatan LPDP dan magang di Pelindo II. Untuk Persiapan Keberangkatan ini merupakan sarana penanaman nilai-nilai kebangsaan sebelum para awardee memulai kuliahnya. Dalam setiap angkatannya terdapat sekitar 120-130an peserta dari seluruh Indonesia, dengan beragam latar belakang pendidikan, profesi, keahlian dan lain-lain. Kegiatan ini berlangsung selamas seminggu penuh, dimana kita dikumpulkan di satu lokasi yaitu Wisma Hijau, Depok. Dalam kegiatan ini, awardee diarahkan saling mengenal satu sama lain, bekerja sama mengerjakan tugas kelompok maupun angkatan, beridiskusi dengan tokoh-tokoh nasional, sebagai bekal bahwa nanti setelah lulus dan kita harus bisa saling bersinergi membangun indonesia. Selain itu juga ada kok sisi menyenangkannya, bonding kelompok dan angkatan yang seru, main arung jeram di Bandung. Gak mungkin kan kita serius terus tanpa ada ice breaking, itu juga penting kok di dunia kerja nanti, supaya kita gak terlalu tegang dalam menghadapi masalah. Pokoknya semua telah disediakan LPDP, difasilitasi dengan sangat baik. Saya sungguh bangga menerima kehormatan untuk menjalankan amanah sebagai awardee beasiswa ini. Karena memang upaya perbaikan bangsa ini hanya bisa ditingkatkan dengan meningkatkan mutu SDM nya. Semoga apa yang dicita-citakan oleh LPDP dan Indonesia dapat terwujud dengan munculnya generasi emas yang akan memakmurkan Indonesia, demi kepentingan rakyat!

Sementara waktu yang saya gunakan untuk magang di Pelindo II ini lebih dikhususkan untuk mencari pengalaman. Karena bidang saya sebelumnya bukanlah bidang yang erat kaitannya dengan kemaritiman. Kurang lebih 30 hari saya melakukan program internship di sektor operasional Pelabuhan Tanjung Priok. Program magang ini lebih ke arah observasi saja, saya tidak melakukan project apapun yang terkait dengan pengembangan aktifitas pelabuhan. Namun, saya sangat bersyukur dapat kesempatan merasakan langsung pekerjaan di lini operasional. Melihat teknologi dan sistem yang digunakan dan bahkan mengetahui beberapa isu pengembangan kedepannya. Jujur saja, pekerjaan di sektor ini sulit. Bagaimana tidak, 24/7 atau 24 jam dalam 7 hari yang artinya tidak ada libur dan jeda. Seluruh operasi di pelabuhan terus aktif meskipun itu akhir pekan bahkan hari libur nasional sekalipun. Pelabuhan sungguh memainkan peran penting dalam pergerakan ekonomi dan masih banyak sekali ruang yang perlu diperbaiki lagi agar negara kita dapat bersaing dengan negara tetangga dalam pengelolaan logistik ini. Pekerjaan rumah yang tak mudah, namun bukan tak mungkin. Kadang saya berpikir, apa saya mampu menjadi bagian dari arus perubahan kebaikan itu? atau kah justru saya terseret dalam derasnya arus yang merusak, mental korup, permainan kotor dan lain sebagainya? Ini sebuah tantangan baru yang akan saya hadapi segera setelah saya lulus studi di Belanda nanti. Satu doa saya, semoga saya mampu, karena tentu perjuangan itu tak akan mudah, idealisme bisa saja bergeser, segalanya tak seindah kata-kata. Untuk itu semoga tulisan ini juga bisa mengingatkan saya ketika saya mulai lelah.

Yang pasti, perjuangan untuk dapat lulus S2 adalah prioritas utama. Meraih ilmu sebanyak-banyaknya, belajar dari masyarakat internasional, melebarkan networking dan segalanya adalah tantangan di depan mata saat ini. Tanggal 18 September tinggal menghitung hari saja, dan 365 hari selanjutnya adalah waktu yang pasti akan sulit dan melelahkan. Tapi saya percaya, betapa Tuhan sangat baik kepada saya. Memberikan segala kesempatan ini, dan saat kesempatan ini ada saya akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengecewakanNya. Sampai jumpa Indonesia! 1 tahun lagi, semoga aku sudah siap untuk memberikan yang terbaik bagimu dan bagi tumpah darah Indonesia. Terakhir untuk mengenang jejak mimpi ini, berikut saya juga post foto yang saya ambil dari yang dulunya masih bertanda “Niat dan Tekad Kuat” sampai sekarang tinggal 2 ceklist saja yang belum tertandai yaitu “Packing Barang” dan “Berangkat” hehehe.

IMG_7607.JPG

Tunggu cerita berikutnya di Negeri Belanda, doakan saya ya (macem acara benteng takeshi) haha!