Harap

Pukul 00.55 dini hari waktu Rotterdam…

Saya belum bisa tidur, ada perasaan sedikit mengusik dan menggelitik. Seperti membawa saya kembali ke masa lalu, tentang berharap. Berharap adalah salah satu kata kerja yang tak biasa. Satu kata yang membuat kebanyakan dari kita pasti pernah merasakannya, seperti berharap ingin punya sepeda baru, atau pergi ke bioskop pertama kali, atau mendaki gunung atau berharap banyak hal lainnya.

Saya sangat sering berharap dan mungkin seperti kebanyakan juga diantara harapan-harapan itu banyak yang sebagiannya tak sesuai keinginan. Pernah saya dibuatnya sesak, sakit sekali tapi tak ada luka fisik. Yang ada hanya helaan nafas yang terrngah-engah dan pandangan mata kosong meratapi nasib. Saya pernah meringis-ringis, menggugat Tuhan, seolah Dia tak adil menempatkan pilihan-Nya. Saya pernah se-sesak itu yang tak bisa saya jabarkan, mengingatnya sekarang pun masih terasa sedikit mengganggu. Tetapi saya akui hal-hal yang tak sesuai keinginan itu, justru adalah segala guru yang mengajarkan tentang hal lainnya yang jauh lebih berharga: ikhlas. Kata ini merupakan kata sifat, ia tak bisa dikerjakan, ia adalah bentuk murni yang kita dapatkan dari banyak kata kerja lain seperti berharap, belajar, berusaha dan lain sebagainya. Ikhlas adalah kata yang jauh lebih luas, lebih arif, lebih dalam daripada berharap. Jika harapan yang tak memenuhi keinginan menimbulkan sesak yang tak bisa dijabarkanm, ikhlas dapat dengan tenang menampungnya.

Malam ini ketika harapan yang sama seperti dulu itu muncul kembali, harapan untuk dapat mengasihi. Harapan untuk kembali percaya lagi. Harapan yang bisa melahirkab semangat berjuang yang besar. Serta harapan yang sama untuk kembali menjadi seorang yang terkasih. Namun kali ini yang terlintas di benak justru bukan sisi indahnya saja. Terbesit perasaan sesak apabila harapan itu tak sesuai keinginan dan seketika saya pun kembali membangun tembok itu. Membatasi harap yang belum pasti juga dengan khayalan lain, hanya saja kali ini khayalan itu adalah versi yang tidak diharapkan. Supaya saya sadar bahwa berharap saja tidak cukup, saya perlu ikhlas terlebih dulu bahkan jauh sebelum saya mengetahui hasilnya.

Malam ini hanya ada dua pepatah yang saya ingat dan terngiang-ngiang di kepala. Yang pertama, “Jika sesuatu memang ditakdirkan untukmu, tidak akan pernah dalam seribu tahun orang lain akan merenggutnya darimu”. Yang kedua, “Dan jika memang hal yang engkau sesali itu memang terbaik untukmu, percayalah seharusnya kau sudah mendapatkannya”.

Intinya adalah berharap itu baik, berusaha untuk mewujudkan harapan juga baik. Namun, memahami bahwa semua itu sudah dalam perhitungan Tuhan dan bisa untuk ikhlas menerima apapun hasilnya adalah suatu keniscayaan yang sampai sekarang masih saya coba hayati.

Sehingga malam ini saya masih tersenyum-senyum sendiri, belum dapat memejamkan mata meski cahaya kamar sudah mati dari sejam yang lalu. Saya pun berharap cahaya yang saya dambakan itu kelak bisa menjadi kenyataan. Pun jika tidak, semoga saya bisa ikhlas merelakannya bersinar di tempat lain yang lebih baik tentunya…

Dari sudut kamar kecil di kota Rotterdam.

Menunggu

Aku terjaga diantara senja dan sejuknya angin malam, pada kedua kelopak matamu yang layu

Aku tertatih merintih perih dalam pelukkan angin kosong, mengadah pinta dan harap dibawah langit gelap

Merangkak… membungkuk… kikuk…

Aku menunggu pasti ketidakpastian yang kau jelma menjadi semu dalam detik waktu jam pasir

Sebuah pertanyaan akan datangnya harapan yang ditunggu atau penyesalan penantian

Semua tanya yang menggenang dan mengendap lama dalam pikirku hingga merasuk ke sukma

Merasuk dan membusuk…

Aku sebuah tanya akan penantian ataukah aku penantian yang dipertanyakan?

Pada sebuah kertas kutuliskan harap, lalu kumasukan ke botol dan ku lempar ke hamparan laut luas

Biarkan ia tergenang dibawa ombak atau mengendap ditelan badai

Pada bidadari yang baik hati kutitipkan surat itu, entah kapan kau datang dari langit menjemputnya

Aku menunggumu dalam kefanaan

Tanah Airku

Really really love what Najwa wrote on her Catatan Najwa, moreover the backsound of most emotional song ever Tanah Airku played very smooth and gently.

Kindly reminder to me, really deep indeed…..​

Story goes on…

Hahaha mungkin judulnya dirasa aneh dan ga bermutu ya, kayaknya kali ini saya lagi kehilangan banyak ide, saat ini adalah saat dimana saya sedang mengalami yang namanya culuture-academic shock ahahaha. Sungguh edan! Beban kuliah disini berkali-kali lipat lebih berat daripada di Indonesia.Yaa, jadi maklum kalau cuma kata itu saja yang terlintas. Karena memang the story (still) goes on…

Setelah sekian lama dihajar habis-habisan dengan tugas dan juga ujian, baru pagi ini saya bisa merasakan duduk anteng di pagi hari menatap keluar jendela, melihat pemandangan sambal memakan dua helai roti, meminum segelas susu dan juga mengetik cerita ini. Ada perasaan bahagia yang muncul entah dari mana ketika saya bisa melakukan hal kecil yang saya bisa nikmati sendiri. Biasanya.. biasanya nih ya, pagi-pagi rutinitas saya adalah bangun, siap-siap berangkat ke kampus, ya dari mulai mandi, membuat sarapan, beres-beres kamar bahkan kalau masih ada tugas yang belum rampung diselesaikan pada malam sebelumnya saya harus mengecek ulang dan merapikan tugas itu sebelum berangkat. Kelas selalu dimulai jam 9 pagi, dan saya harus berangkat paling lambat jam 8.30 karena perjalanan ke kampus membutuhkan waktu 20 menit, kadang lebih lama karena angina di Rotterdam itu jahat. Dingin dan menusuk, seperti kenangan masa lalu mungkin hahaha. Saya selalu membawa sepeda, lebih sehat alasannya atau lebih hemat tepatnya. Kadang hal ini berimbas pada berkurangnya uang transport yang saya gunakan tiap minggunya, tetapi menambah uang belanja harian karena saya jadi suka makan banyak. Sebisa mungkin saya hindari juga jajan di kampus, maka dari itu setiap kali saya ke kampus paling tidak saya membawa bekal. Kalau lagi sempat, ayam goring atau telur jadi bekal. Kalau tidak, ya paling sama saja seperti sarapan, 2 helai roti yang dilapisi mentega atau selai yang saya bawa. 10 menit sisa di kelas saya habiskan untuk bengong, menghela napas sehabis menggowes sepeda atau menjahili teman saya yang sesame Indonesia haha. Jangan harap bisa telat disini! Ketat, lewat dari 5 menit toleransi, namamu tidak akan dicatat dalam absensi. Dosen pun sering kali dating lebih awal, menyiapkan slide presentasi dan kita sebagai mahasiswanya menunggu, ia tidak akan memulai sebelum jam 9.00 dan tidak akan menunggu lewat dari itu. Disiplin yang kuat. Kadang saya kewalahan mengikutinya.

Saat kelas dimulai semua duduk pada tempatnya yang sudah diatur lebih dulu oleh staff administrasi program. Sampai Desember nanti, tempat duduk kami akan selalu ditentukan dan diacak. Ada 46 orang yang terdiri dari 18 kebangsaan berbeda, pantaslah jika metode ini dilakukan agar kita bisa mengenal satu sama lain. Orang Indonesia? Paling banyak! 12 orang hehe. Syukurlah bentuk nyata dukungan pada sector maritime ini sungguh terasa, banyak orang Indonesia dari kalangan akademisi maupun professional baik dari swasta ataupun pemerintah yang disekolahkan ke luar negeri. Kami 12 orang pun cukup beragam, 4 orang bisa dikatakan masih freshgraduate, 1 orang pengalaman kerja di swasta, 2 orang dari government sector dan 5 orang lainnya dari sector operator pelabuhan. Program kami dibagi dalam 4 blok selama 1 tahun, berarti rata-ratanya tiap blok berjalan selama 3 bulan. Maritime Economics and Logistic atau MEL ini sering mengadakan aktivitas kunjungan lapangan, beberapa waktu lalu kita melakukan kunjungan ke Port of Rotterdam. Itu kali pertama saya melihat pelabuhan dengan system otomasi dimana lapangan penumpukan sangat sepi dari aktivitas manusia. Semua tertata rapih dan sangat canggih. Pengajar atau dosen di program ini juga beragam, kita mendapatkan materi dari pakar di bidang maritime, sains dan juga professional. Ada satu dosen ekonomi yang bekerja di Swiss dan hanya memiliki waktu yang sebentar saja untuk ke Belanda. Sehingga saat ia dating, perkuliahan yang harusnya dibagi dalam 3 bulan dipadatkan hanya 3 pertemuan. Satu kali pertemuan 5 jam, dan besoknya ujian :”)

Tapi memang cara mengajarnya sangat menarik, penuh dengan diskusi yang membangun pola pikir, matang dengan pengalaman dan juga kuat di teori. Kami tidak bosan dan tidak mengeluh selama kuliah berlangsung (kecuali saat ujian keesokan harinya). Hampir setiap hari pasti ada kelas, dan hampir setiap hari juga ada kumpul kelompok membahas tugas. Disini, semua serba cepat, iramanya kencang wus wus wuus wuuuss sekencang anginnya memang. Saya bisa pulang sampai jam 7 malam meski kelas berakhir jam 12 siang. Sesampainya di rumah bersih-bersih, makan kemudian tugas lagi. Gak kelar-kelar rasanya. Bahkan sampai Sabtu pun saya masih perlu mengikuti kelas Bahasa Inggris yang diadakan oleh pihak kampus selama 3 jam. Jadi bisa dikatakan Senin-Sabtu dunia saya masih berkutat dengan kampus…..

Tapi itulah pilihan yang saya buat, kompensasinya adalah saya mendapatkan banyak sekali pengalaman dan juga kesempatan untuk akselerasi diri plus jalan-jalan tentunya hahaha. Setiap minggu saya usahakan untuk jalan-jalan, paling tidak di kota Rotterdam. Mungkin sudah agak susah sekarang kalau mau jalan-jalan keluar kota. Tapi saya pastikan minggu saya tidak mau memegang hal yang berbau akademis. Minggu seperti meditasi yang saya lakukan demi menjaga kewarasan. Yeah everybody needs that! Kalau tidak bisa gila nanti. Saya sadar akan tujuan utama saya dating kesini, mencari pengalaman dan juga ilmu. Saya sadar tugas saya sebagai mahasiswa, saya pun tidak ingin mendapatkan hasil yang buruk untuk mata kuliah yang saya ambil. Tetapi bagaimanapun, manusia bukanlah robot, saya telah mengikuti 2 ujian dan hasilnya sudah keluar. Dua mata kuliah yang sama sulitnya, Economics dan Statistics. Alhamdulillah hasilnya memuaskan. Sehingga saya merasa wajib menjaga kesehatan hati saya agar tetap bisa waras sampai akhir tahun nanti. Apalagi setelah Januari, jadwalnya akan sangat padat sekali saya sudah diwanti-wanti oleh pihak kampus. So, hiburlah diri kalian jangan terlalu serius pun jangan main-main. Inilah saat dimana kita harus memilih dan menyeimbangkan. Kalau ini mudah, tidak akan sedikit yang akan mencobanya, tapi karena ini layak antara usaha dan kompensasi mestilah di jaga ya kan?

Bahkan pada akhirnya saya juga mendapatkan amanah menjadi salah satu ketua divisi di PPI Belanda tahun 2016/2017. Awalnya agak ragu, mampu gak menjaga konsistensi kuliah, tetapi saya yakin pasti bisa. Selama masalah kompensasi dan usaha ini dijaga. Ada hal dalam diri kita yang perlu di apresiasi, ada hal yang perlu diusahakan sekuat tenaga, ada hal yang perlu dilepaskan. Semua ini butuh komitmen, semua itu dimulai dari tekad dan harapan. Sehingga saya pada akhirnya memilih menjalankan amanah baru di PPI Belanda, tetapi tidak melupakan tugas besar sebagai mahasiswa dengan menjaga nilai di kelas, dan tak lupa kompensasi diri dengan libur dan menyenangkan diri sendiri. Toh cara bersenang-senang tiap orang berbeda kan, seperti saya saat ini yang hanya mengetik sebuah cerita di blognya sambal menyantap sarapan pagi dan menikmati pemandangan dari samping jendela kamar?

Siapapun kita, apapun mimpi kita, bagaimanapun masalah yang dihadapi, above all do not lose hopes!

Dari kamar kecil di sudut kota Rotterdam

di penghujung musim gugur

Belanda, 11 November 2016

7 Hari Pertama di Belanda

Sebuah kisah bermula dari mimpi dilanjutkan aksi, dijalani maka tak terasa kita akan sampai di akhir kisah itu sendiri….

Akhirnya saya di Belanda, wuuuh, bahkan sudah hampir 7 hari saya ada di negeri ini lebih tepatnya di kota dimana 1 tahun akan saya lewati untuk studi S2 yaitu Rotterdam. Sudah ngerasain jalan kaki dorong 2 koper super gede, salah naik tram, bingung naik kereta di peron mana, ketinggalan kereta karena kelamaan parkir sepeda, paha dan kaki pegel luar biasa karena gowes hampir 10 km tiap harinya, jalan-gowes-jalan-gowes terus terusan, ikut solat jumat yang ga paham ceramahnya, sampai kedinginan tiap malemnya. Segala bentuk dari lelah, penat, jetlag, culture shock saya alami selama hampir 7 hari disini. Jauh dari ingar bingar yang saya bayangkan, daerah tempat saya tinggal yaitu Rotterdam Alexander merupakan daerah pinggiran yang tidak terlalu kekotaan, bahkan lebih ke daerah pedesaan. Banyak danau disini dan burung atau bebek haha. Saya ga sadar kenapa saya justru kerasan dengan situasi ini. Meski jauh dari kampus, jauh dari pusat kota, jauh dari teman (saya sendirian disini), tapi seru aja punya banyak waktu untuk merenung, untuk nyasar ga jelas dan liat pemandangan baru, teduh walaupun tetap harus pegel-pegel karena jauh dari mana-mana. Tapi saya rasa itu harga yang layak dibayar untuk semua ketenangan ini.

Satu hal yang pasti, saya masih belum seratus persen nyaman dengan semua perbedaan anatara Belanda-Indonesia. Setiap kali terbangun masih saja saya membayangkan diri saya ada di kamar tidur di lantai atas rumah saya di Depok. Sering gelagapan karena kalau bangun disana jam 5.30 itu udah terang banget. Disini malah jam 6 baru sunrise. Saya kangen krucil bocah, debat sama kakak-kakak saya, diomelin ibu dan bapak karena teledor dll. Rusuh sih yang diinget yg jeleknya, tapi justru itu yang ngangenin, disini terlalu tenang, hal itu baik tentu tapi saya tetap gabisa ngilangin gitu aja keseharian saya sama keluarga di rumah yang sangat melekat. Apalagi 1 tahun terakhir nunggu kuliah dimulai saya banyak habiskan waktu di rumah. Tapi sekarang saat saya sudah di sini, di negeri ini, justru hal yang paling saya tunggu 1 tahun itu justru membuat saya banyak berpikir ulang…. Benarkah saya ditakdirkan disini?

Ada perasaan senang bahkan overjoyed mungkin karena akhirnya salah satu dari wishlist hidup kamu udah terwujud. Datang ke negera asing bukan sekedar liburan tapi untuk melanjutkan studi. Tapi seperti ga sadar atau ga siap, kita menanggung semua paketannya. Rasa grogi akan dunia baru yang ga pernah kamu lalui, takut akan kegagalan di tengah perjalanan, ataupun kesepian jauh dari orang-orang yang dicinta. Keluar dari zona nyaman sungguh membuat saya risih, gelisah bahkan susah tidur selama hari-hari awal disini. Katanya dulu ketika saya ikut semacam acara persiapan keberangkatan, orang baru akan melewati 4 fase kehidupan disini. Fase turis, fase benci negara ini, fase mulai terbiasa, fase suka negara ini. Entah kenapa saya langsung berada di fase dua, fase benci negara ini. Ya masih agak norak dengan hal-hal baru yang saya liat lalu saya post di akun social media tapi ga nutup bahwa saya “benci” dengan kondisi ini. Benci karena justru ketika saya sudah merasa meraih semuanya, bayang-bayang ketakutan itu muncul. Ya benar, ini kali pertama saya going abroad, sebelumnya saya ga pernah ikut-ikutan konferensi international, organisasi international macem AIESEC di kampus, atau apapun yang kaitannya sama jalan-jalan keluar negeri. Dulu sempet mau presentasi paper di Kuala Lumpur, tapi karena saya harus ikut Program Persiapan Keberangkatan dari LPDP saya pupuskan kegiatan itu. Sekarang disinilah saya, membodohi diri sendiri dengan segala sumpah serapah karena ketakutan yang saya ciptakan sendiri…

Beberapa kesempatan yang lalu saya sempat ketemu dengan kumpulan teman internasional sejurusan dan bahkan mengunjungi acara wisuda MEL 2016. 2 acara yang cukup menampar saya berkali-kali memberitahukan kenyataan di depan mata, ga selamanya saya bisa terus-terus ketakutan, sendirian atau malah terlalu santai. Saya sengaja datang 2 minggu lebih awal daripada jadwal kuliah, selain mempersiapkan soal administrasi kampus dan urusan beasiswa, saya juga ingin bersiap terhadap culture shock disini. Tapi bukan culture shock dari luar yang saya dapatkan, saya malah merasa biasa saja pada budaya-budaya disini paling tidak saya bisa membayangkan bagaimana negara asing dari cerita-cerita yang saya dapatkan di Indonesia dulu. Tapi soal inner-shock yang saya alami ini belum ada obatnya dan tamparan yang nyata saya dapatkand dari 2 events itu benar-benar membuat saya sadar bahwa saya sudah di negeri ini, saya sudah memulai memilih jalan ini, studi di kota terbaik dalam pelayanan logistik kemaritiman di daratan Eropa. Tak elok sekali rasanya saya menyerah pada mimpi yang saya bangun sendiri, membodohi diri sendiri seperti ini tak boleh lebih lama lagi. Maafkan jika postingan kali ini tidak memberikan banyak motivasi atau apapun, justru lebih kuat di keputusasaan, ketakutan, pesimisme akan diri saya sendiri. Tapi justru ini merupakan pelajaran yang sangat terasa bagi saya, pelajaran yang membuat saya sangat galau dan risau beberapa hari belakangan di saat seharusnya saya mungkin senang-senang menjadi turis seminggu haha. Juga saya harap kalian siap dengan semua ketakutan itu, saya harap bagi siapapun pengejar mimpi yang akan melakukan pengalaman pertamanya juga going abroad seperti saya, beranilah menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Entah itu fasenya sesuai dengan urutan yang saya katakan sebelumnya, atau justru berbeda sama sekali itu tak masalah. Tapi pastikan hati dan mental anda siap untuk banyak hal tak terduga. Jika kalian harus galau dan risau atau bahkan takut seperti yang saya alami, tak perlu khawatir, karena saya yakin itu alamiah. Hanya saja sadarkan diri anda segera, batasi waktu anda untuk terus dalam kondisi pesimisme itu, jangan biarkan mereka mengkonsumsi diri anda terlalu lama. Jangan membodohi diri sendiri dengan mimpi yang anda bangun sendiri. Pada dasarnya berani bermimpi maka berani mempertanggungjawabkannya. Kata-kata dan kisah ini saya buat untuk kembali mengingatkan diri saya kembali untuk tidak jatuh dilubang yang sama dan saya mendoakan kalian semua juga mendapatkan jalan keluar dari apapun kegelisahan yang kalian rasakan.

Dan mohon doanya juga untuk 300an hari kedepan selama saya meneruskan studi di negeri ini, di kota ini, agar saya kuat dan mampu tersenyum bahagia di akhir kisah dengan gelar baru di belakang nama saya kelak.

Yes, wish me luck! 🙂

*dari lantai 3 apartemen di daerah Rotterdam Alexander yang tenang*

I love the rain, i love the sound and smell, love the way it pours all the way to the ground to the roof, reflecting all the light above and neglecting all the obstacle ahead just because nothing can stop flowing water. And maybe it has something in the rain that always i can remember about, memories just pop up like bubles inside your head and pumped down to the heart. As simple as that, as random as that, i don’t know which one is stronger. But all is true and all might lead me to somewhere that only me that knows what happening inside of me…

 

i love the rain, cause no matter i am looking for, it pours all the same 🙂

Nieuw avontuur naar studeren in Nederland: Sebuah Perjalanan Mengejar Mimpi Kuliah di Negeri Kincir Angin

Mimpi yang tidak diperjuangkan adalah sia-sia, sementara perjuangan tanpa mimpi adalah buta

Tulisan ini mencoba mengurai salah satu guratan makna dalam hidup saya yang sebenarnya sudah saya sampaikan pada beberapa tulisan sebelumnya: melanjutkan studi ke negeri kincir angin. Perbedaannya pada tulisan ini saya akan menceritakan lebih banyak soal proses perjalanan saya untuk berhasil diterima di salah satu universitas ternama di Belanda, yang pada sebelumnya saya lebih menekankan bagaimana proses pencairian beasiswa. Disini saya akan bercerita dari mulai mendaftar kuliah hingga persiapan keberangkatan seperti aplikasi visa, legalisasi akte, les akulturasi budaya orang Belanda, dll. Gak terasa nih tinggal 27 hari lagi sebelum akhirnya terbang (macem superman aja) ke Belanda.

Anyway, kalau kalian udah baca postingan saya sebelumnya tentang beasiswa LPDP dan beberapa alasan dasar saya untuk melanjutkan kuliah ini akan lebih mudah untuk dipahami hehe (kayak apaan aja ya). Tetapi sedikit review saja, pada intinya saya memutuskan melanjutkan kuliah adalah karena saya masih mencari jati diri, saya ingin memperdalam dan menambah pengalaman lebih banyak dari keilmuan yang saya miliki dengan melanjutkan studi di luar negeri. Hal yang belum saya dapatkan bahkan setelah saya menamatkan jenjang S1. Lantas kenapa harus Belanda? Kenapa bukan yang lain? Nah disini lah cerita saya dimulai hehe.

Setelah saya memantapkan diri untuk mengambil S2 dan menuda untuk langsung bekerja, saya pun menentukan apakah jurusan yang tepat bagi saya. Selama kuliah di TI, saya mendapati bahwa TI itu sangat general sekali, terlalu luas dan umum. Saya tidak bisa mengikuti kecenderungan yang luas tanpa membatasi diri pada topik tertentu. Sampai pada akhirnya ketika saya mengerjakan tugas akhir, saya meneliti tentang usaha pelayaran rakyat (sebuah transportasi yang digunakan untuk mengangkut barang dan orang yang kapalnya terbuat dari kayu, cenderung mengikuti model phinisi tetapi telah menggunakan motor). Lantas saya berpikir bahwa dunia kemaritiman adalah sektor yang perlu dikembangkan, peluang besar bangsa ini untuk bisa lebih maju salah saunya adalah memberdayakan potensi kemaritimannya dan memperkuat sistem penunjangnya. Lantas karena salah satu bagian keilmuan TI berbicara mengenai supply chain dan logistic, saya pun tertarik memperdalam keilmuan ini dengan berfokus pada sektor kemaritiman. Karena seperti kita ketahui biaya logistic di indonesia sangat lah tinggi, biaya mengirim komoditas dari jakarta-nusa tenggara bisa lebih mahal daripada biaya mengirim barang dari jakarta-spanyol misalnya. Keseluruhan, besarnya biaya logistik ini setara dengan seperempat GDP Indonesia per tahun. Saya yakin, sudah banyak ahli dan pendahulu yang menggeluti bidang ini, ini bukanlah ranah yang baru. Tetapi keyakinan saya terletak disini, laut haruslah menjadi pondasi kemakmuran bangsa demi mewujudkan amanat UUD 1945. Paling tidak saya ingin menjadi bagian yang mengusahakan mimpi itu terwujud. Jika saya tidak bisa melihat mimpi itu berdiri, paling tidak saya ingin menjadi batu bata yang menjadi pondasinya.

Melihat itu, saya membuka data bank dunia, logistic performance index menunjukan bahwa 3 negara terbaik dalam pengelolaan logistic adalah jerman, belgia dan belanda. Sehingga pada awalnya saya memutuskan untuk kuliah di jerman, negeri para pelajar. Saya mulai melakukan riset mengenai kampus-kampus di jerman. Saya benar-benar buta pada awalnya, bagaimana caranya? Bermodalkan internet kampus saya membuka Google pada saat itu, dan mengetikan “maritime logistic studies” lalu enter. Ketika jendela berhenti melakukan loading yang sepersekia detik saja, saya melihat bahwa banyak sekali jurusan dari berbagai negara yang menawarkan studi ini. Dari mulai Australia, UK, Belanda, Singapore, Denmark, dll. Saya bingung, saya baca semua webnya, saya teliti, saya klik bagian admission requirement. Saya baca prosesnya. Untuk negara Jerman pada akhirnya saya menemukan kendala, bahwa beberapa jurusan terbaik dari studi yang saya incar ini menampilkan bahasa Jerman yang tidak saya mengerti pada laman web nya. Saat itu saya mencoba bertanya pada senior, dosen, kolega. Mereka menjelaskan bahwa di Jerman sudah menjadi rahasia umum bahwa bahasa Jerman menjadi sangat penting untuk dikuasai. Lantas dari situ mulai tumbuh keraguan, saya bukan tidak mau belajar bahasa Jerman, tapi memperbaiki bahasa inggris saja saya sudah cukup kewalahan, memang soal bahasa ini saya bukan tipikal anak yang begitu cerdas memahaminya. Dari semua pelajaran dari dulu saya paling tidak pede soal bahasa. Salah satu harapan saya pun ketika kuliah di luar negeri mampu memaksa saya keluar dari zona nyaman dan meningkatkan skill berbahasa saya. Tapi dengan menambah satu bahasa lagi untuk dikuasai? Saya rasa waktunya tidak akan cukup. Di jerman butuh minimal level B2, bagaimana biayanya? berapa lama waktunya? lalu test bahasa inggris seperti IELTS juga tetap dibutuhkan, saya prediksi saya akan membutuhkan waktu lebih dari setahun untuk bisa kuliah kalau seperti itu jadinya. Terlalu lama, resiko yang terlalu besar diambil, saya juga ingin cepat kerja.

Alternatifnya saya memindahkan pandangan ke negara sebelah yang juga dikenal dengan sebagai negara pelabuhan, Belanda. Kebetulan saya melihat ada satu jurusan yang dari namanya saja sudah sangat sesuai Maritime Economics and Logistics (MEL), jurusan yang dikelola oleh Erasmus Univ. Rotterdam (EUR) ini merupakan jurusan yang belum lama dirintis, mungkin angkatan pertamanya adalah 2011. Programnya dibuat untuk 1 tahun masa studi dengan pengajarnya adalah campuran dari akademis dan praktisi dari industri terkait, program ini juga merupakan joint program dari 2 fakultas di EUR yaitu RSM dan ESE. Tetapi pada saat itu says tidak terlalu mengetahui mengetahui tentang jurusan ini. Sehingga saya berusaha untuk mencari nama-nama pelajar Indonesia yang pernah kuliah disana, dimulai dengan melihat daftar judul thesis beserta penulisnya (ada di web MEL), kemudian mengetikan nama tersebut di akun Facebook dan membuat percakapan singkat untuk berkenalan dan bertanya hahaha. Kalau diingat-ingat hal itu sangat memalukan deh, tapi bagaimana juga saya butuh info. Jadi saran saya, kalau gatau lakukan saja hal yang diperlukan sekalipun itu aneh (asal tetap ada etikanya ya).

Singkat cerita, dari penjelasan dari seorang alumni MEL saya mendapati info menarik bahwa separuh dari pengajar MEL berasal dari kalangan professional dan MEL lebih menitikberatkan pada pengalaman di lapangan dari pada di dalam kelas sehingga banyak mata kuliahnya yang merupakan kunjungan lapangan ke pelabuhan yang ada di eropa. Cocok dengan minat saya yang memang ingin menggeluti karir professional bukan akademisi dan ketika saya terus mencari tahu dan mencàri sampai titik dimana saya yakin bahwa inilah pilihan yang akan saya ambil. Saya mantap memastikan MEL adalah pelabuhan saya selanjutnya.

November 2015, saya diundang untuk mengikuti pelatihan IELTS yang diselenggarakan oleh LPDP. Sebagai salah satu komponen yang saya terima dari jalur afirmasi. Sebelumnya saya belum pernah mengetahui apa itu tes IELTS, yang saya tahu hanyalah biayanyq lebih mahal daripada TOEFL. Alasan ini juga yang mendorong saya mengambil beasiswa lebih dahulu dengan rentang waktu menunggu kuliah satu tahun  agar bisa mempersiapkan bahasa inggris saya cukup. Pelatihan ini dimulai satu bulan setelah saya diterima sebagai awardee yaitu bulan November dan diperkirakan berakhir pada bulan Februari. Jika nyatanya nilai saya dinyatakan blm mencukupi saya berhak mengikuti kelas tambahan dengan test yang diadakan setiap 3 bulan sekali. Sementara batas pengumpulan persyaratan kampus saya hanya bisa sampai dengan bulan april. Artinya tidak ada waktu lain selain mendapatkan nilai yang cukup di bulan Februari atau tidak sama sekali karena test selanjutnya akan diadakan dibulan Mei. Kalau boleh dibilang proses belajar IELTS ini sangat melelahkan, senin sampai jumat mulai pukul 8 pago sampai 4 sore. Rutinitas itu wajib saya lakukan selama 3 bulan lamanya. Hari-hari terasa sangat melelahkan. Saya tidak tahu jika bukan karena teman-teman yang sangat baik, yang saling memotivasi tiap harinya tentunya saya sudah jatuh entah dimana, tertinggal jauh di belakang. Kebetulan peserta kelas IELTS ini ada 25 orang, dan banyak diantaranya yang berasal dari jurusan bahasa inggris dan ketika saya dengan kaku nya, terbata-bata berdiskusi dalam bahasa inggris, mereka selalu sabar mendengarkan dan dengan baik hati mengkoreksi. Jujur saya sangat lemah soal bahasa, meski saya selalu dianggap lebih baik karena lulusan salah satu kampus terbaik di negeri ini tetap tidak bisa menghilangkan kenyataan bahwa saya merasa sangat senang memiliki teman-teman seperjuangan seperti mereka. Bahkan saya malu sekali rasanya, ternyata apapun “status” yang kita sandang bukanlah jaminan bahws kita lebih baik dari orang lain. Disana saya banyak belajar, belajar tentang kesederhanaan, kerjasama, ke-bhinekaan karena saya satu-satunya peserta dari Jakarta, sisanya teman-teman banyak yang berasal dari Sumatera, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi. So much fun!

Februari 2016, beberapa hari menjelang ujian IELTS saya dihinggapi perasaan yang campur aduk. Apakah saya akan berhasil memenuhi syarat nilai yang diminta pihak kampus? Akankah saya mengulang test untuk kedua kalinya? Bagaimana kalau gagal, dan 3 bulan di Jogja ini sia-sia??? Kerisauan ini menyelimuti saya dalam bayangan yang tak bisa saya ungkapkan, terlebih satu bulan sebelumnya saya meminjam uang 7,5 juta kepada kakak saya untuk membayar biaya pendaftaran ke pihak kampus yang bersifat non-refundable atau gabisa dikembalikan. Waaahh katjau!!! Saking stressnya saya sempat sakit beberapa hari sebelum ujian. Tetapi kemudian meyakinkan diri sekali lagi bahwa inilah momen yang saya tunggu, sebuah momen untuk membuktikan saya bisa melalui tantangan ini untuk menggapai mimpi. Karena jangan pernah kita menunggu keajaiban dunia, make it happen! Karen sesulit apapun ujian hidup kita tidak akan pernah tau hasilnya kecuali dengan mencobanya bukan. Takut? Itu wajar sangat manusiawi. Tetapi yakinilah bahkan setelah selesai urusan saya dengan IELTS ini akan datang ujian lainnya. Hari berlalu datang rintangan baru, sehingga tak akan lebih baik jika kita lari. 

26 Februari 2016, saya dinyatakan lulus dengan capaian nilai IELTS yang sesuai dengan harapan kampus 6.5 overall. Dengan persebaran listening 6.5, reading 8.0, speaking 6.0, writting 6.0. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Saat itu saya sedang membantu dosen saya melakukan presentasi sosialisasi ISO di FTUI dan langsung keluar ruangan untuk sujud syukur dan agak sedikit berteriak kegirangan sih tentunya haha. Satu keraguan telah runtuh pada hari itu, dan kepastian akan mimpi menuju Negeri Kincir Angin telah tersematkan dengan jelas. Saya akan ke Belanda tahun ini! Itu kalimat yang saya ilhami dan sangat bergetar dalam dada seharian penuh, bahkan sampai beberapa hari ke depan.

Kabar gembira itu saya sebarkan ke keluarga, kerabat dekat dan pihak-pihak yang mendukung perjalanan saya mengejar mimpi ini. Tanpa ada satu yang pun yang tertinggal, saya yakin tak akan mampu saya mewujudkan mimpi ini sendiri. Karena terlalu banyak dan besarnya jasa orang-orang di sekitar saya. Saya seorang biasa, tumbuh besar dari keluarga biasa-biasa saja, memiliki capaian prestasi yang biasa, dengan segala keterbiasaan yang mungkin tak seorang pun sadar akan eksistensi saya. Namun, saya mampu melebihi apa yang saya kira tak bisa, saya mampu melebihi batasan diri saya sendiri dan itu sudah lebih dari cukup. Cukup sangat cukup. Saya hanya ingin menjadi diri saya yang terbaik, versi terbaik yang masih banyak ruang untuk dikembangkan.

Maret-Mei 2016, ada beberapa kegiatan yang saya ikuti seperti Persiapan Keberangkatan LPDP dan magang di Pelindo II. Untuk Persiapan Keberangkatan ini merupakan sarana penanaman nilai-nilai kebangsaan sebelum para awardee memulai kuliahnya. Dalam setiap angkatannya terdapat sekitar 120-130an peserta dari seluruh Indonesia, dengan beragam latar belakang pendidikan, profesi, keahlian dan lain-lain. Kegiatan ini berlangsung selamas seminggu penuh, dimana kita dikumpulkan di satu lokasi yaitu Wisma Hijau, Depok. Dalam kegiatan ini, awardee diarahkan saling mengenal satu sama lain, bekerja sama mengerjakan tugas kelompok maupun angkatan, beridiskusi dengan tokoh-tokoh nasional, sebagai bekal bahwa nanti setelah lulus dan kita harus bisa saling bersinergi membangun indonesia. Selain itu juga ada kok sisi menyenangkannya, bonding kelompok dan angkatan yang seru, main arung jeram di Bandung. Gak mungkin kan kita serius terus tanpa ada ice breaking, itu juga penting kok di dunia kerja nanti, supaya kita gak terlalu tegang dalam menghadapi masalah. Pokoknya semua telah disediakan LPDP, difasilitasi dengan sangat baik. Saya sungguh bangga menerima kehormatan untuk menjalankan amanah sebagai awardee beasiswa ini. Karena memang upaya perbaikan bangsa ini hanya bisa ditingkatkan dengan meningkatkan mutu SDM nya. Semoga apa yang dicita-citakan oleh LPDP dan Indonesia dapat terwujud dengan munculnya generasi emas yang akan memakmurkan Indonesia, demi kepentingan rakyat!

Sementara waktu yang saya gunakan untuk magang di Pelindo II ini lebih dikhususkan untuk mencari pengalaman. Karena bidang saya sebelumnya bukanlah bidang yang erat kaitannya dengan kemaritiman. Kurang lebih 30 hari saya melakukan program internship di sektor operasional Pelabuhan Tanjung Priok. Program magang ini lebih ke arah observasi saja, saya tidak melakukan project apapun yang terkait dengan pengembangan aktifitas pelabuhan. Namun, saya sangat bersyukur dapat kesempatan merasakan langsung pekerjaan di lini operasional. Melihat teknologi dan sistem yang digunakan dan bahkan mengetahui beberapa isu pengembangan kedepannya. Jujur saja, pekerjaan di sektor ini sulit. Bagaimana tidak, 24/7 atau 24 jam dalam 7 hari yang artinya tidak ada libur dan jeda. Seluruh operasi di pelabuhan terus aktif meskipun itu akhir pekan bahkan hari libur nasional sekalipun. Pelabuhan sungguh memainkan peran penting dalam pergerakan ekonomi dan masih banyak sekali ruang yang perlu diperbaiki lagi agar negara kita dapat bersaing dengan negara tetangga dalam pengelolaan logistik ini. Pekerjaan rumah yang tak mudah, namun bukan tak mungkin. Kadang saya berpikir, apa saya mampu menjadi bagian dari arus perubahan kebaikan itu? atau kah justru saya terseret dalam derasnya arus yang merusak, mental korup, permainan kotor dan lain sebagainya? Ini sebuah tantangan baru yang akan saya hadapi segera setelah saya lulus studi di Belanda nanti. Satu doa saya, semoga saya mampu, karena tentu perjuangan itu tak akan mudah, idealisme bisa saja bergeser, segalanya tak seindah kata-kata. Untuk itu semoga tulisan ini juga bisa mengingatkan saya ketika saya mulai lelah.

Yang pasti, perjuangan untuk dapat lulus S2 adalah prioritas utama. Meraih ilmu sebanyak-banyaknya, belajar dari masyarakat internasional, melebarkan networking dan segalanya adalah tantangan di depan mata saat ini. Tanggal 18 September tinggal menghitung hari saja, dan 365 hari selanjutnya adalah waktu yang pasti akan sulit dan melelahkan. Tapi saya percaya, betapa Tuhan sangat baik kepada saya. Memberikan segala kesempatan ini, dan saat kesempatan ini ada saya akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengecewakanNya. Sampai jumpa Indonesia! 1 tahun lagi, semoga aku sudah siap untuk memberikan yang terbaik bagimu dan bagi tumpah darah Indonesia. Terakhir untuk mengenang jejak mimpi ini, berikut saya juga post foto yang saya ambil dari yang dulunya masih bertanda “Niat dan Tekad Kuat” sampai sekarang tinggal 2 ceklist saja yang belum tertandai yaitu “Packing Barang” dan “Berangkat” hehehe.

IMG_7607.JPG

Tunggu cerita berikutnya di Negeri Belanda, doakan saya ya (macem acara benteng takeshi) haha!

 

 

Cerita Kopi

Kita tidak bisa menyamakan kopi dengan air tebu. Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.

Penggalan dari isi karya Dee diatas mengocok kembali kepala saya setelah sekian lama ini. Mungkin ada kaitannya dengan dua hal yang saya alami malam ini. Pertama saya baru pulang dari mencicip kopi gayo, yang kebetulan diajak seorang teman dari Aceh mampir ke kenalannya yang pecinta kopi. Dan yang kedua adalah melihat kembali seseorang yang pernah mengisi ruang hidup saya melalui postingan seorang teman di media sosial….

Saya tak tahu mengapa, larut kni perasaan itu kembali datang. Perasaan rindu dan pahit bertumbuk menjadi satu. Seperti biji kopi yang di grind halus, remuk dan halus hingga siap di seduh dengan air hangat yang menjadikannya kopi. Tapi justru disitu juga dirasakan sensasi nikmatnya menghirup aroma kopi. Mengamininya dalam setiap tarikan nafas, menikmatinya, hingga sampai kita mencicip seteguk espresso yang memberikan daya gugah dan rangsangan kuat ke otak membuat dunia menjadi lebih jelas. Menjelajahi pahit dan rindu dalam secangkir kopi sungguh tak ada tara.

Meski saya tetap tak tahu apa jawaban atas fenomena yang saya alami ini. Sekalipun saya tak akan pernah tahu, pahitnya akan teap saya nikmati. Sebuah sensasi dan ledakan rasa pahit yang terkubur itu membuat saya bisa lebih jelas dan peka melihat perkara lainnya di sekeliling saya. Pelajaran yang tak akan pernah saya lupakan. Pahit, sakit dan rindu menjadi satu. Sampai kapanpun doa ku menyertaimu. Sampai kapanpun, i do always love you. See you when i see you…


“You only have to be encourageous for only 20 seconds”
Great movie! Kinda love a plot from the beginning till the end.
The last line that really got me there is “Why would an amazing woman like you even talk to someone like me?” And the answer “Why not?”
It is deep, really deep 🙂